Ledakan merupakan awan padat gas terionisasi pijar yang diproyeksikan dari kromosfer Matahari ke dalam korona. Saat GMT lingkaran akan mengandung efek warna pink tua, atau prominences.
Prominences berhubungan dengan kelompok bintik matahari dan, seperti halnya bintik api aktif, berkorelasi dalam jumlah dan aktivitasnya dengan siklus matahari.
Prominences berhubungan dengan kelompok bintik matahari dan, seperti halnya bintik api aktif, berkorelasi dalam jumlah dan aktivitasnya dengan siklus matahari.
Ledakan bersamaan dengan Gerhana Matahari pada 8 April, minggu depan, yang termasuk fenomena langkah karena baru akan terjadi lagi kemungkinan di Agustus 2044, mengutip Space.com, Selasa (2/4/2024).
Periode gelap yang singkat dalam hitungan menit, saat Gerhana Matahari mencapai puncak adalah waktu yang tepat memandang ke arah matahari tanpa bantuan alat. Pada saat itu juga Anda akan melihat lingkaran plasma bermuatan listrik dengan ukuran jauh lebih besar dari diameter Bumi.
? ? Sun news for Apr 1, 2024: Overlapping flares from two sunspot regions
— Dr. C. Alex Young (@TheSunToday) April 1, 2024
? ? ? Sun activity decreased to moderate with AR3615's departure over the E limb. AR3625 and AR3615 produced an interesting flare or set of flares.
? MORE at EarthSky: https://t.co/xD29wLfm4e pic.twitter.com/ubluGYqjHM
Aktivitas ini melahirkan fenomena Coronal Mass Ejections (CMEs) atau dikenal dengan lontaran massa korona, dimana saat pengamatan dapat terlihat struktur spiral berputar tinggi di atmosfer mahatari, jika beruntung, menrut ilmuwan fisika dari National Solar Observatory di Boulder, Colorado, Ryan French, dikutip dari Livescience.
(wep)