Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) memprediksi penurunan harga beras bisa terjadi pada akhir Maret 2024, meski tidak akan terjadi secara signifikan.

Ketua Umum Perpadi Sutarto Alimoeso mengatakan penurunan harga yang tidak signifikan terjadi karena produksi beras pada periode panen raya tersebut diestimasikan turun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Dalam kaitan itu, Perpadi juga menunggu langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengawal panen raya lantaran hal tersebut juga akan sangat berpengaruh terhadap penurunan harga beras. 

“Berdasarkan pengamatan lapangan di beberapa sentra padi, panen besar akan terjadi pada akhir Maret, tetapi tidak sebesar panen raya yang biasa terjadi. April juga masih panen agak besar. Fenomena yang terjadi ada perubahan yaitu panen raya tidak sebesar biasanya, justru turun. Harga beras bisa turun tergantung pemerintah, apakah yang dilakukan sudah tepat,” ujar Sutarto saat dihubungi Bloomberg Technoz.

Berdasarkan rekapitulasi Badan Pusat Statistik (BPS) dalam data Kerangka Sampel Area (KSA) pengamatan Desember 2023 yang diolah Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 25 Januari 2024, produksi beras pada Maret 2024 diprediksi mencapai 3,51 juta ton atau berada di atas kebutuhan konsumsi yang mencapai 2,54 juta ton. Artinya, produksi beras pada Maret 2024 berpeluang mengalami surplus sebesar 0,97 ton.

Penggilingan padi./Bloomberg- Luke Duggleby

Kendati demikian, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi sebelumnya mengelaborasi periode panen raya pada 2024 berisiko mengalami kemunduran dan tidak terjadi pada Maret 2024.

Penyebabnya, Indonesia sudah bisa disebut mengalami panen raya bila pada 3 bulan sebelumnya luas tanam padi yang dikerjakan lebih dari 2 juta hektare (ha), dengan anggapan berhasil dan panen rata-rata di atas 5,25 ton per ha.

“Jadi [panen raya itu kalau produksi] di atas 5 juta ton setara beras,” ujar Arief saat dihubungi Bloomberg Technoz.

Bulog Harus Berstrategi

Dalam kaitan itu, Sutarto Alimoeso -yang juga mantan Direktur Utama Perum Bulog (Persero) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono - berharap Bulog bisa mengubah strategi pengadaan untuk mendapatkan beras, sekalipun tidak banyak produksi yang bisa diserap. 

Terlebih, Bulog saat ini masih menggunakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) di tingkat petani menjadi sebesar Rp5.000/kg di saat harga GKP sudah melambung tinggi.

Dimintai konfirmasi secara terpisah, Direktur Utama Perum Bulog (Persero) Bayu Krisnamurthi mengatakan, saat ini instansinya memang belum mengambil produksi dalam negeri untuk pengadaan beras. Penyebabnya, harga gabah sudah melambung di atas HPP yang ditetapkan.

“Saat ini pengadaan dalam negeri tidak ada, [produksi] kita negatif. Produksi defisit sudah 8 bulan. Gimana mau dapat dengan harga [gabah] Rp8.000/kg padahal HPP Rp5.000/kg? Tidak bisa dapat."

“Kondisi harga gabah sudah di atas Rp7.500/kg sampai Rp8.000/kg. Itu terjadi di hampir semua sentra produksi. Di daerah produksi, harga beras sudah Rp15.000/kg,” ujar Bayu. 

Harga Gabah dan Beras medio Februari:

  • Indramayu : harga gabah Rp7.350/kg ; harga beras premium Rp15.475/kg
  • Karawang : harga gabah Rp7.150/kg ; harga beras premium Rp14.333/kg
  • Banyumas : harga gabah Rp8.500/kg ; harga beras premium Rp15.000/kg
  • Sragen  : harga gabah Rp8.100/kg ; harga beras premium Rp14.200/kg 
  • Ngawi  : harga gabah Rp8.200/kg ; harga beras premium Rp15.700/kg
  • Sidenreng Rappang : harga gabah Rp7.900/kg ; harga beras premium Rp14.050/kg



(dov/wdh)

No more pages