Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Selasa (13/1/2024), sehari sebelum gelar Pemilu dan Pilpres digelar dan di tengah penantian data inflasi AS yang akan dirilis nanti malam, kemungkinan akan terbatas dengan kecenderungan melemah.
Setelah berhasil menguat kemarin, rupiah berpotensi melemah di tengah indeks dolar AS yang kembali bangkit menyusul pernyataan yang terdengar agak hawkish dari pejabat Federal Reserve. Posisi pelaku pasar yang akan cenderung menahan diri jelang pengumuman data inflasi AS nanti malam dan gelar Pemilu esok.
Beberapa pejabat The Fed menyatakan, mereka membutuhkan lebih banyak konfirmasi bahwa laju disinflasi, yang tak diduga berlangsung cepat tahun lalu, terjadi di banyak sektor termasuk di sektor jasa. Kepastian bahwa disinflasi berlangsung luas di banyak sektor menjadi batasan baru bank sentral sebelum akhirnya berani memulai penurunan bunga.
Thomas Barkin, Gubernur The Fed Richmond, dan Gubernur The Fed Boston Susan Collins, mengindikasikan bahwa mereka tidak hanya ingin disinflasi berkelanjutan. Namun, mereka juga ingin memastikan disinflasi berlangsung meluas seperti di sektor perumahan dan jasa. Pernyataan ini bernada hawkish bagi pasar dan membuat optimisme pivot bunga menjadi sedikit kempis.
Yield atau tingkat imbal hasil Treasury, surat utang AS, melanjutkan kenaikan dengan tenor 10 tahun kini berada di 4,17% dan indeks dolar AS ditutup menguat tipis 0,06% ke 104,17.
Ini menjadi sinyal terbatasnya gerak rupiah hari ini. Di pasar forward, kontrak NDF rupiah pagi ini bergerak sedikit turun di kisaran Rp15.590/US$ setelah ditutup menguat tadi malam di New York pada posisi Rp15.584/US$.
Pemodal terlihat menahan diri menunggu hasil Pemilu yang akan digelar esok hari dan menghasilkan hitung cepat perkiraan pemenang Pemilu dan Pilpres 2024. Dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) yang digelar Senin kemarin, permintaan yang masuk turun cukup signifikan yaitu hanya Rp52,6 triliun dari tadinya mencapai Rp73,2 triliun pada lelang SUN sebelumnya.
"Penurunan nilai permintaan masuk itu karena kehati-hatian investor jelang data inflasi AS dan pemilu. Investor berusaha meminimalkan eksposur di pasar surat utang terkait potensi terjadinya dua putaran Pilpres yang mungkin akan memicu overshooting pada rupiah ke kisaran Rp16.000/US$," kata Lionel Prayadi, Macro Strategist and Fixed Income Mega Capital Sekuritas dalam catatan, Selasa (12/2/2024).
Analisis teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melemah dengan target koreksi terdekat menuju area level Rp15.625/US$ juga ke support terdekat selanjutnya sampai dengan Rp15.650/US$.
Apabila kembali break support tersebut, rupiah berpotensi gagal mendekati indikator MA-100 dan MA-50 yang jadi resistance terkuat dalam time frame daily pada Rp15.700/US$.
Jika nilai rupiah mampu menguat hari ini, resistance menarik dicermati pada level Rp15.550/US$ dan resistance selanjutnya Rp15.510/US$. Adapun dalam tren jangka menengah rupiah masih memiliki potensi penguatan optimis ke level Rp15.490/US$.

(rui)