Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga batu bara stagnan pada perdagangan akhir pekan lalu. Secara mingguan, harga si batu hitam terkoreksi dalam.
Pada Jumat (2/2/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 116/ton. Sama persis dibandingkan hari sebelumnya.
Sepanjang pekan lalu, harga batu bara anjlok 8,73% secara point-to-point. Dengan demikian, harga komoditas ini turun 5 minggu beruntun.
Tingginya pasokan membuat harga batu bara terpangkas. Di China, produksi batu bara pada 2023 tercatat 4,66 juta metrik ton. Naik 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus menjadi rekor tertinggi.
Pada saat yang sama, China mengimpor 474,42 juta metrik ton batu bara tahun lalu. Melonjak 61,8% dan juga menjadi rekor tertinggi sepanjang masa.
China adalah konsumen batu bara terbesar dunia. Jadi perkembangan permintaan dan penawaran di sana akan sangat mempengaruhi harga. Sekarang kebetulan posisinya sedang kelebihan pasokan alias oversupply sehingga harga terkoreksi.
Analisis Teknikal
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), batu bara memang sedang bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 43,05. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Sementara indikator Stochastic RSI berada di 30,66. Belum oversold, sehingga masih ada risiko aksi jual.
Namun dengan koreksi yang sudah sangat dalam, harga batu bara berpeluang bangkit. Target resisten terdekat ada di US$ 122/ton. Jika tertembus, maka ada kemungkinan naik lagi menuju US$ 126/ton.
Sementara target support terdekat adalah US$ 111/ton. Penembusan di titik ini bisa membawa harga batu bara jatuh ke US$ 103/ton.
(aji)