Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar obligasi atau surat utang Indonesia bersiap mencetak reli harga begitu sinyal penurunan bunga acuan Bank Indonesia, BI Rate, semakin kentara terlihat tahun ini.
Kini di tengah penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kapan dimulainya serial penurunan bunga global yang terlihat sudah diperhitungkan oleh pemodal di seluruh dunia, para pengelola dana global terlihat sudah mendahului masuk ke pasar domestik menyerbu surat utang.
Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh pemodal asing meroket sepekan terakhir di mana pergerakan arus masuk modal asing dalam lima hari terakhir mencapai US$ 36,9 juta, sekitar Rp576 miliar dengan kurs JISDOR Rp15.627/US$. Angka itu melampaui rata-rata pergerakan foreign inflows 20 hari terakhir yang sebesar Rp318,79 miliar, menurut data Kementerian Keuangan RI yang dikompilasi oleh Bloomberg sampai Senin kemarin.
Posisi kepemilikan asing di SBN saat ini mencapai Rp848,9 triliun, tertinggi dalam lima bulan terakhir, sampai data 22 Januari.
Arus masuk modal asing itu bakal semakin melonjak bila sinyal penurunan bunga acuan kian jelas. "Bila BI rate diturunkan tiga kali pada paruh kedua tahun ini, mengikuti penurunan bunga The Fed, tingkat imbal hasil SUN 10 tahun bisa jatuh ke 6% pada akhir tahun ini," kata Herman Tjahjadi, Chief Investment Officer di BRI Manajemen Investasi, seperti dilansir oleh Bloomberg News, Selasa (23/1/2024).
Level 6% terakhir terlihat pada 2021 untuk tenor acuan. Saat ini, timbal hasil SUN 10 tahun masih stabil bergerak di kisaran 6,56%. Pergerakan imbal hasil berkebalikan dengan harga. Bila harga obligasi naik, maka imbal hasil bergerak turun. Begitu juga sebaliknya.
Sejauh ini pelaku pasar masih optimistis The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak enam kali tahun ini, menurut analis. "Pada akhirnya The Fed akan menurunkan bunga, mungkin mendekati semester II nanti. Begitu The Fed menurunkan bunga maka bank-bank sentral di pasar negara berkembang akan mengikuti termasuk Bank Indonesia," kata analis.
Herman memprediksi, ada potensi BI akan menurunkan lebih dulu tingkat bunga RRR (Reverse Repo Rate) sebelum akhirnya memangkas BI rate, terutama bila The Fed ternyata menunda siklus penurunan bunganya.
"BI mungkin menurunkan tingkat bunga RRR jika kondisi likuiditas semakin ketat karena kenaikan pertumbuhan kredit. Namun, saat ini rasio pinjaman terhadap simpanan [Loan to Deposit Ratio/LDR] di empat bank terbesar di Indonesia menunjukkan kondisi likuiditas masih baik," jelasnya.
Dalam kajian terpisah, tim riset JP Morgan untuk pasar negara berkembang Asia Pasifik, keketatan likuiditas perbankan yang masih berlangsung hingga saat ini baru akan normal pasca penurunan bunga global dimulai diikuti penurunan BI Rate yang akan menarik banyak dana asing masuk.
Hitungan JP Morgan, akan ada kelebihan likuiditas meningkat di kisaran Rp50 triliun-Rp100 triliun di tengah pertumbuhan M0 (uang primer) di 8%-10%. "Perkembangan ini akan memberikan prospek perbaikan terhadap kondisi likuiditas domestik pada tahun ini. Jika memang M0 kembali ke tren pertumbuhan sekitar 8-10%oya, kami memperkirakan simpanan dapat meningkat sebesar 15-20%, dibandingkan ekspektasi pertumbuhan kredit sekitar 10%," tulis analis JP Morgan dalam kajian yang dilansir 15 Januari lalu.
Situasi itu akan memberi nafas leluasa bagi perbankan di mana mereka tidak lagi tertekan untuk melepas kepemilikan surat berharga mereka untuk mendukung likuiditas.
"Pergeseran kondisi likuiditas domestik akan berdampak signifikan terhadap perilaku perbankan khususnya perihal pengaturan likuiditas dan aset (Asset Liability Management/ALM). Bila terjadi kelebihan likuiditas seperti perkiraan kami, itu akan mengurangi kebutuhan bank untuk memangkas kepemilikan obligasi mereka dan dengan demikian mengurangi pasokan pasar sekunder dan juga mengurangi persaingan dalam menarik dana simpanan," jelas analis JP Morgan. JP Morgan mempertahankan rekomendasi 'beli' untuk SUN tenor 3 tahun.
Sementara dalam catatan yang dilansir Ahad lalu, analis Goldman Sachs Danny Suwarnapruti, mempertahankan rekomendasi 'beli' untuk SBN bertenor 10 tahun dengan target di 6% dan stop loss di 7%.
(rui/aji)