Bloomberg Technoz, Jakarta - Kalangan pakar menyayangkan ihwal pembahasan isu krusial di sektor hilirisasi sumber daya alam (SDA) yang salah kaprah dalam debat Pilpres 2024 putaran keempat antarcalon wakil presiden, Minggu (21/1/2024) malam.
Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan salah satu isu penting yang justru tidak didalami dalam debat cawapres kemarin adalah soal transisi energi. Bahkan, pembahasan soal transisi disebutnya tidak sesuai konteks dalam debat tersebut.
“Kalaupun dibahas, hanya di permukaan saja. Itu tidak secara spesifik dibahas. Bahkan, menurut saya, Gibran misalnya mengemukakan ekonomi hijau itu akan menciptakan lapangan kerja. Namun, kemudian dia mengatakan ekonomi hijau itu dari hilirisasi,” ujar Fahmy saat dihubungi, Senin (22/1/2024).
Fahmy menggarisbawahi isu ekonomi hijau dan hilirisasi adalah dua subjek yang berbeda. Hal itu, menurut pendapatnya, merefleksikan ketidakpahaman cawapres yang bersangkutan terhadap isu transisi energi.

Dia mencontohkan proyek penghiliran nikel berikut investasi smelter-nya di Indonesia justru menghasilkan kerusakan lingkungan, sehingga penghiliran tidak bisa dianggap sebagai bagian dari ekonomi hijau.
“Jadi ini salah kaprah pemahaman,” tegas Fahmy.
Akibat pemahaman yang tidak komprehensif, lanjutnya, terdapat pemikiran bahwa hilirisasi seolah-olah menjadi solusi atau semua masalah yang akan mengancam misi Indonesia Emas pada 2045.
Menurut Fahmy, tujuan penghiliran nikel ada dua, yaitu menaikkan nilai tambah dan pembangunan ekosistem industri. Di satu sisi, Indonesia hanya memperoleh sekitar 30% nilai tambah dari hilirisasi nikel.
“Memang nilai ekspornya meningkat dibandingkan dengan bijih besi dan bijih nikel, sehingga itu wajar karena ada hilirisasi. Namun, nilai ekspor itu tidak seluruhnya dinikmati Indonesia. Jadi hilirisasi yang sekarang ini masih nothing, bukan solusi, tetapi [dianggap] seolah-olah bisa menyelesaikan berbagai masalah dan menghindarkan Indonesia dari middle income trap.”
Dia pun menyinggung gagasan cawapres nomor urut 2 soal hilirisasi bagaikan “lampu Aladin”, yang dianggap sekali gosok bisa menyelesaikan semua masalah ekonomi. “Jadi saya kira pemahaman Gibran masih sangat tidak paham, gitu ya.”

Cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka, sebelumnya memastikan bakal terus menggalakkan program hilirisasi jika terpilih memimpin Indonesia bersama capresnya, Prabowo Subianto.
"Dengan hilirisasi kita akan membuka pekerjaan seluas-luasnya. Dalam pelaksanaannya dipikirkan aspek lingkungan keberlanjutan dan sosialnya," ujar Gibran dalam pernyataan pemungkasnya di sesi debat cawapres kemarin.
Gibran mengatakan segala persoalan yang terjadi pada bangsa ini adalah permasalahan dan tantangan untuk anak-anak masa kini.
"Maka membutuhkan solusi zaman now. Tantangannya adalah bagaimana kita menemukan titik keseimbangan. Hilirisasi dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan," lanjut Gibran.
"Solusi zaman now, tentunya anak-anak zaman now perlu lebih banyak dilibatkan," tegas Gibran.
(wdh)