Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat pada Sesi I perdagangan saat ini. Padahal Bursa Saham Asia sedang merah ‘Membara’.
Pada Selasa (16/1/2024) IHSG berada di posisi 7.256,02 pada jeda siang hari. Naik 0,44% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sejumlah indeks sektoral menjadi pendukung utama kenaikan indeks, sektoral saham konsumen non primer jadi yang paling tinggi penguatannya dengan 1,15%. Menyusul, konsumen primer, barang baku, dan infrastruktur yang masing-masing menguat 0,4%, 0,39%, dan 0,32%.
Sejumlah saham yang menguat tajam dan menjadi top gainers antara lain PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) yang melonjak 35%, PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) yang melesat 14,7%, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang melejit 14,3%.
Kemudian saham-saham yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) yang anjlok 24,9% PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) yang jatuh 10,4%, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang ambruk 9,87%.
Sementara indeks saham utama Asia kompak menapaki jalur merah. Pada pukul 12.20 WIB, Hang Seng (Hong Kong), Shenzhen Comp. (China), TW Weighted Index (Taiwan), KOSPI (Korea Selatan), Topix (Jepang), Nikkei 225 (Tokyo), Shanghai Composite (China), Straits Times (Singapura), PSEI (Filipina), KLCI (Malaysia), dan juga SETI (Thailand) yang terpangkas masing-masing 1,87%, 1,06%, 0,96%, 0,82%, 0,66%, 0,63%, 0,6%, 0,35%, 0,25%, 0,07%, dan 0,03%.
Indeks regional tertekan imbas pernyataan hawkish pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) Raphael Bostic yang menjabat sebagai Gubernur The Fed Atlanta, menyatakan, Bank Sentral mewaspadai adanya potensi inflasi AS bergerak fluktuatif secara tak terduga sehingga hal itu akan membuat peluang penurunan bunga secara terburu-buru menjadi terlalu berisiko.
Inflasi AS pada Desember mencatat kenaikan 3,4% yang menguat dari 3,1% pada bulan sebelumnya. Menurut Bostic, meskipun tekanan inflasi sudah banyak berkurang ketimbang perkiraan tahun lalu, dia menilai disinflasi tahun ini akan melambat.
Hal senada juga datang dari anggota Dewan Gubernur ECB Robert Holzmann mengindikasikan bahwa pemotongan suku bunga acuan tahun ini tidak bisa dijamin mengingat masih adanya risiko inflasi dan geopolitik.
Adapun sentimen pernyataan tersebut senada dengan komentar sebelumnya dari Gubernur ECB Christine Lagarde yang memperingatkan bahwa terlalu dini untuk berbicara tentang pemangkasan biaya pinjaman.
Tekanan juga datang dari ketegangan yang terus meningkat di Laut Merah. Terbaru, Houthi menyerang kapal komersial milik AS dengan rudal balistik pada Senin, menggarisbawahi risiko yang dihadapi salah satu jalur perdagangan terpenting di dunia, seperti yang diwartakan Bloomberg News.
Pasukan AS dan Inggris membombardir target di Yaman selama beberapa hari terakhir setelah serangkaian serangan terhadap kapal komersial oleh Houthi, yang telah menargetkan kapal yang memiliki hubungan apa pun dengan Israel. Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan itu dan Yahya Saree, juru bicara angkatan bersenjata Houthi, mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan di televisi bahwa mereka akan menargetkan kapal dan kapal perang AS dan Inggris. Serangan akan terus berlanjut selama Israel melanjutkan serangannya di Gaza, katanya.
(fad)