Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih belum memprioritaskan proyek transmisi pipa gas Kalimantan, yang sebelumnya sudah lama terkatung-katung.
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, hal itu disebabkan lantaran pihaknya kini tengah fokus menyelesaikan proyek pipa gas dari Jawa Timur hingga Aceh.
Pasalnya, penuntasan megaproyek tersebut dinilai lebih menguntungkan secara ekonomis, sejalan dengan tumbuhnya industri yang menyebabkan kebutuhan gas makin banyak di kedua pulau tersebut.
"Trans Kalimantan sampai saat ini kita belum menjadikan PSN, karena memang kita lihat skala ekonominya. Kebutuhannya di pulau Jawa dan Sumatera yang paling besar untuk gas," ujarnya saat ditemui, Kamis (11/1/2024).
Laode mengatakan, pihaknya hingga kini masih fokus untuk menyelesaikan pembangunan pipa gas Cirebon-Semarang (Cisem) tahap 2 (ruas Batang-Kandang Haur Timur), yang akan di mulai pada Juni 2024, dan target selesai di pengujung 2025 melalui alokasi APBN dengan skema multi years contract senilai Rp3,3 triliun.
Pembangunan tersebut merupakan kelanjutan dari proyek pipa gas Cisem tahap 1 (ruas Semarang-Batang) yang telah rampung dan beroperasi pada November 2023 lalu.
Setelah proyek Cisem tahap 2 rampung, kata Laode, pihaknya baru akan melanjutkan proyek pipa gas ruas Dumai-Sei Mangke yang akan dimulai pada 2025, dan direncanakan rampung 2027. Proyek ini juga menggunakan alokasi APBN dengan nilai Rp6,6 triliun.
Ketiga proyek itu nantinya ditargetkan dapat menyambungkan penyaluran jaringan pipa gas dari ujung jawa hingga ujung Sumatera.
"Kalau sudah nyambung, ini semua kebutuhan gas yang ada di berbagai lokasi di sumatera dan jawa bisa dipasok melalui pipa gas transmisi ini. Demikian juga dengan sumber-sumber yang ada di sekitar Jawa Timur maupun di Aceh yang baru ditemukan, bisa lewat pipa ini."
(ibn/spt)