Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) sebagai salah satu penjamin pelaksana efek PT Adhi Kartiko Pratama atau AKP Nickel Mining (NICE) angkat bicara terkait initial public offering (IPO) NICE yang dianggap exit strategy pemegang saham lama.
“Mungkin melihatnya dari yang masuk itu saja, LX International. Melihatnya begini, memberi kesempatan pada investor publik untuk masuk [sebagai] co-investor LX International. Masuknya bareng, mereka masuknya di harga itu,” kata Direktur Trimegah Sekuritas David Agus di gedung BEI, Selasa (9/1/2024).
David menambahkan, pemegang saham NICE sebelumnya juga sudah berinvestasi untuk kegiatan eksplorasi pengeboran tambang nickel milik NICE.
“Sudah terbukti cadangannya, jadi boleh-boleh saja. Apa bedanya dapat saham baru lalu lalu untuk eksploitasi tambang. Yang penting cadangan terbukti berapa, dan kelihatan masuk investor itu hasil capex ada hasilnya, dipercaya investor,” tutur dia.
Munculnya isu exit strategy pemegang saham lama AKP Nickel (NICE) lantaran dalam IPO, saham yang dijual merupakan saham divestasi. Sementara, pada umumnya, saham yang diterbitkan dalam IPO merupakan saham baru seri tertentu.
Sungai Mas Minerals dan Inti Mega Ventura adalah pemegang saham lama AKP Nickel Mining. Keduanya melakukan divestasi kepemilikannya di AKP Nickel Mining secara total sebanyak-banyaknya 1,22 miliar saham.
Saham divestasi itu yang dijadikan sumber emisi IPO dan dihargai pada level Rp438/saham. Sehingga, nilai IPO ini mencapai Rp532,78 miliar.
Namun, lantaran IPO ini adalah divestasi pemegang saham lama, maka dana segar hasil IPO tidak masuk ke AKP Nickel Mining. Sebelum IPO, Sungai Mas Minerals memiliki 51% saham AKP Nickel Mining. Kemudian, Inti Mega Ventura memiliki 48,18%.
Keduanya melepas masing-masing 10% kepemilikannya dalam IPO tersebut. Sehingga, usai IPO, kepemilikan saham Sungai Mas Minerals dan Inti Mega Ventura di AKP Nickel Mining masing-masing terdilusi menjadi 41% dan 38,18%.
AKP Nickel Mining didirikan pada 2008. Perusahaan bergerak di bidang pertambangan bijih nikel melalui kegiatan eksplorasi melalui proyek nikel laterit yang merupakan kontributor utama dalam industri bijih nikel global.
Tambang NICE terletak di Desa Lameruru, Kecamatan Langgikima, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Indonesia, 180 kilometer (km) sebelah barat laut Kabupaten Kendari.
(mfd/dhf)