Bloomberg News
Bloomberg - Harga komoditas logam seperti tembaga hingga bijih besi jatuh setelah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% tahun ini. Beijing juga tidak mengumumkan stimulus baru.
Sebagaimana diwartakan Bloomberg News, harga tembaga sempat anjlok 1,9% sebelum menipiskan koreksi menjadi 0,7% ke US$ 8.920,5/ton di London Metal Exchange (LME). Harga zinc turun 1,5% dan aluminium terkoreksi 1%. Harga bijih besi sempat jatuh 3,5% ke US$ 121/ton.
Harga logam mulia juga berguguran. Harga emas di pasar spot turun 0,5% ke US$ 1.846,15/troy ons. Perak, platinum, dan paladium juga mengalami koreksi.

Tidak adanya pengumuman stimulus baru di Kongres Rakyat Nasional Partai Komunis China membuat investor logam kurang antusias. Mereka mencari petunjuk stimulus baru sebagai dasar pendukung kenaikan harga.
Target pertumbuhan ekonomi di Kongres Rakyat Nasional Partai Komunis China membuat Beijing punya ruang bermanuver setelah tahun lalu pertumbuhan ekonomi meleset jauh dari target. Pada 2022, ekonomi China tumbuh 3% sementara target pemerintah ada di 5,5%.
“Kongres Rakyat Nasional memberi pesan bahwa pemerintah ingin menstabilkan ekonomi dibandingkan memberi stimulus besar-besaran,” kata Jiang Hang, Head of Trading di Yonggang Resources Co.
Minimnya desakan untuk menggelontorkan stimulus di China akan menjadi ‘awan mendung’ bagi harga logam, kata Commodity Strategist TD Securities Ryan McKay.
Pelaku pasar akan mencari sinyal peningkatan permintaan pada bulan ini, karena biasanya Maret adalah musim pembangunan sebelum memasuki musim panas, kata Analis Marex Al Munro.
(bbn)