Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Sesi II sore hari ini dengan penguatan. Bahkan, penguatan IHSG adalah salah satu yang tertinggi di Asia.
Pada Kamis (4/1/2024), IHSG parkir di 7.359,76 pada penutupan perdagangan, menguat 1,11% dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Posisi tertinggi IHSG hari ini ada di 7.371,23 sedangkan terendah di 7.280,4. Volume perdagangan tercatat melibatkan 17,17 miliar saham. Nilai perdagangan mencapai Rp9,87 triliun.

Sejumlah saham mencatat kenaikan luar biasa dan menjadi top gainers. Mereka a.l. PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang melonjak 34,1%, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) dan PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) melesat masing-masing 34% dan 28,6% serta PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) bertambah 24,6%.
Sebaliknya, sejumlah saham yang melemah dan menjadi top losers, di antaranya; PT Darmi Bersaudara Tbk (KAYU) yang anjlok 34,1%, PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN) jatuh 17,2%, dan PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) ambruk 16%.
IHSG menjadi sedikit dari Bursa Asia yang mampu menguat. Selain IHSG, indeks lain yang finis di jalur hijau adalah PSEI (Filipina), KLCI (Malaysia), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), dan SETI (Thailand) yang menguat masing-masing 1,59%, 1,02%, dan 0,35%.
Dengan demikian, IHSG menjadi indeks dengan penguatan terbaik kedua di Asia, hanya kalah dari PSEI, indeks saham Filipina.
Sementara itu, bursa saham Asia didominasi warna merah. Shenzhen Comp (China), Straits Times (Singapura), Kospi (Korea Selatan), Nikkei 225 (Tokyo), Shanghai Composite (China), TW Weighted Index (Taiwan), Hang Seng (Hong Kong), terpangkas masing-masing 0,84%, 0,79%, 0,78%, 0,53%, 0,43%, 0,05% dan 0,00%.
Salah satu sentimen yang mewarnai laju indeks Asia hari ini datang dari Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang mengindikasikan suku bunga acuan Federal Funds Rate akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama dari perkiraan.
Seperti yang diwartakan Bloomberg News, risalah menyarankan suku bunga bisa tetap pada level restriktif "Untuk beberapa waktu", sambil memberi sinyal bahwa pemotongan suku bunga acuan mungkin terjadi sebelum tutup tahun.
"Secara keseluruhan, ini adalah pembaruan hawkish dari The Fed," menurut Ian Lyngen di BMO Capital Markets. Meskipun "Nada pembaruan tampaknya diabaikan investor."
Risalah itu juga tidak menyatakan secara gamblang kapan Gubernur Jerome Powell dan kolega akan mulai menurunkan suku bunga acuan. Apalagi sejumlah peserta rapat menyebut ada risiko baru yang menghantui perekonomian Negeri Paman Sam.
“Beberapa peserta rapat menyatakan bahwa ada risiko jika permintaan tenaga kerja terus melemah. Ini bisa membuat pasar tenaga kerja berubah cepat dari perlambatan secara gradual menjadi lebih parah,” lanjut risalah itu.
Pembuat kebijakan di Bank Sentral paling berpengaruh di dunia itu menyatakan lebih tegas posisi kebijakan mereka 'Higher for Longer' setidaknya sampai ada data meyakinkan bahwa inflasi AS benar-benar telah menapaki jalur disinflasi yang menjanjikan.
Atas katalis itu, dini hari tadi waktu Indonesia, 3 indeks utama di Wall Street kompak finish di zona merah. Indeks Nasdaq Composite jatuh 1,18%, S&P 500 melemah 0,8%, sedang Dow Jones Industrial Average (DJIA) drop 0,76%.
(fad/wdh)