Bloomberg Technoz, Jakarta - Per 1 Januari 2024 pemerintah memberlakukan kebijakan vaksin booster Covid-19 berbayar. Epidemiologi Dicky Budiman mewanti-wanti kebijakan tersebut membuat orang malas vaksinasi.
"Karena kepentingan memberikan proteksi diri itulah maka harus diupayakan terus terjaga cakupannya dalam konteks ini artinya pentingnya vaksinasi menjadi gratis, artinya tidak berbayar itu sangat berperan dalam meningkatkan cakupan kalau tadinya sudah malas, merasa aman, kemudian ini harus bayar ini menjadi sulit meningkatkan cakupan vaksinasi" tegas Dicky.
Dicky mengatakan jika hal tersebut terjadi, tingkat kekebal komunal yang dihasilkan dari vaksinasi akan rendah dan menimbulkan potensi terjadinya kenaikan kasus dengan tahap gelombang kecil namun menyasar pada kelompok rawan, kematian hingga pontensi Long Covid-19.
Dicky juga mengatakan pemerintah harusnya menggratiskan vaksinasi Covid-19 dengan kategori pada kelompok anak hingga lansia.
''Pemerintah mau tidak mau harus memprioritaskan aspek kesehatan masyarakat itu khusunya sudah berkurang tidak semua di vaksin kan, saat ini yang menjadi prioritas dan vaksinasi primer pada anak itu harusnya gratis kemudian pada komorbid, pada lansia dan yang harus diberikan proteksi tambahan dan juga sebaiknya gratis. Karena jumlahnya tidak besar saya rasa pemerintah tidak punya pilihan lain selain memberikan program secara gratis buat mereka ya,'' jelas Dicky.
Dicky juga telah memprediksi bahwa Covid-19 ini tetap terus bisa bermutasi dan melahirkan subvarian baru lainnya bahkan bisa menembus barikade perlindungan imunisasin dari vaksinasi.
"Bahkan tahun 2024 bisa berpotensi melahirkan satu subvarian yang makin efektif menembus berikade imunisasi dari vaksinasi. Maka, sebetulnya bicara vaksin tetap penting ya, kedua harus mengemukakan kepada publik, pemerintah juga bahwa vaksin bukan solusi tunggal, sehingga peran PHBS, Perilaku Lebih Sehat, dengan peningkatan 5 M dari udara, ventilasi, sirkulasi baik ini menjadi sangat penting," prediksi Dicky.
(dec/spt)