Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga batu bara anjlok pada perdagangan tahun lalu. Memasuki tahun yang baru, harga si batu hitam belum bisa bangkit malah terus terpuruk.
Pada Selasa (2/1/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 127,75/ton. Anjlok 12,74% sekaligus jadi yang terendah sejak 28 November.
Dalam seminggu terakhir, harga batu bara jatuh 9,35% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga berkurang 2,3%.
Sebagai informasi, harga batu bara ambruk 63,78% sepanjang 2023. Koreksi ini memutus rantai kenaikan yang sebelumnya terjadi 3 tahun beruntun.
Kejatuhan harga batu bara tidak lepas dari koreksi harga gas alam. Kemarin, harga gas TTF Belanda dan di Inggris ambruk masing-masing 5,5% dan 5,84%.
Saat harga gas lebih murah, maka insentif untuk menggunakan batu bara pun berkurang. Akibatnya, harga batu bara ikut terseret turun.
Analisis Teknikal
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), batu bara memang bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 42,62. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Sementara indikator Stochastic RSI berada di 60,96. Sejatinya masih aman, masih jauh dari jenuh beli (overbought) sehingga masih ada ruang untuk akumulasi.
Setelah kejatuhan hari ini, harga batu bara berpeluang bangkit. Target resisten terdekat adalah US$ 132/ton. Jika tertembus, maka US$ 153/ton bisa menjadi resisten selanjutnya.
Sedangkan support terdekat adalah US$ 115/ton. Penembusan di titik ini bisa membawa harga batu bara jatuh lagi ke US$ 113/ton.
(aji)