Bloomberg Technoz, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang 2023 adalah 2,61%. Lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,51%.
Inflasi 2023, di luar tahun pandemi Covid-19 yaitu 2020 dan 2021, adalah yang terendah dalam 20 tahun.

Amalia Adininggar Widyasanti, Plt Kepala BPS, menyebut salah satu penyebab rendahnya inflasi adalah efek acuan atau base effect yang tinggi. Pada 2022, penyebab lonjakan inflasi adalah kenaikan harga BBM subsidi.
Pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga Pertalite pada 3 September 2022.
"Setelah terjadi shock seperti kenaikan harga BBM bersubsidi, level IHK (Indeks Harga Konsumen) akan naik tinggi. Sebagai contoh 2005 di mana seiring kenaikan harga BBM maka tingkat inflasi relatif tinggi. Selanjutnya pada 2006 inflasi lebih rendah. Inilah yang disebut base effect," jelas Amalia dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (2/1/2024).
Dampak kenaikan harga BBM pada September 2022, lanjut Amalia, memang sempat memberikan tekanan inflasi. Namun pada 2023, khususnya saat memasuki kuartal III, efeknya sudah memudar bahkan bisa dikatakan hilang.
Selain base effect akibat harga BBM, tambah Amalia, rendahnya inflasi juga dipicu oleh penurunan konsumsi masyarakat untuk sejumlah pengeluaran. Misalnya adalah untuk air, listrik, bahan bakar rumah tangga, dan transportasi.
Di sisi lain, harga kebutuhan pokok justru naik. Beras menjadi yang paling mencolok sepanjang 2023.
"Jika dirinci berdasarkan kelompok pengeluaran, tertinggi adalah makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 6,18% dengan andil 1,6% terhadap inflasi umum. Komoditas yang mengalami inflasi tertinggi adalah beras dengan andil 0,53%," papar Amalia.
Di bawah beras, lanjut Amalia, adalah cabai merah yang menyumbang inflasi tertinggi dengan andil 0,24%. Disusul oleh rokok kretek filter 0,17%, dan cabai rawit 0,1%.
(aji)