Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah jadi menguat dan menghijau pada penutupan perdagangan Sesi I. IHSG bergerak tidak searah dengan Bursa Saham Asia lainnya. Indeks aktivitas manufaktur jadi sentimen siang hari ini.
Pada Selasa (2/1/2024), IHSG parkir di 7.276,56 kala penutupan perdagangan Sesi I. Naik 0,05% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Saham sektoral transportasi memimpin penguatan IHSG dengan lonjakan 2,88%. Disusul oleh sektor barang baku menguat 1,2% dan konsumen non primer terapresiasi 1,03%.
Sementara sektoral kesehatan membukukan pelemahan paling dalam yaitu 1,25%. Di atasnya ada sektor teknologi yang terpangkas 1%.
Saham-saham yang melesat dan menjadi top gainers di antaranya PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) yang naik 26,8%, PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) melejit 16,4%, dan PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) bertambah 14,5%.
Sedangkan saham-saham yang jatuh dan menjadi top losers antara lain PT Darmi Bersaudara Tbk (KAYU) yang turun 34,7%, PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY) anjlok 25%, dan PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) ambruk 21,1%.
Di Asia, hanya sedikit indeks saham yang menapaki jalur hijau. Pada pukul 12:25 WIB, SETI (Thailand) melejit 1,09%, PSEI (Filipina) terapresiasi 0,75%, Kospi (Korea Selatan) yang menguat 0,67%, serta IHSG (Indonesia) yang menghijau 0,56%.
Sedang indeks saham Asia lainnya terperosok di zona merah, yaitu Hang Seng (Hong Kong) jatuh 1,41%, TW Weighted Index (Taiwan) ambles 0,67%, KLCI (Malaysia) terdepresiasi 0,47%, Shenzhen Comp. (China) turun 0,41%, Straits Times (Singapura) melemah 0,18%, dan juga Shanghai Composite (China) drop 0,14%.
Kabar kurang menyenangkan datang dari indeks aktivitas manufaktur di Asia, yang mengakhiri 2023 dengan kinerja yang lemah, dipicu lesunya perekonomian global yang mengurangi permintaan terhadap barang-barang dari kawasan tersebut.
Sebagian besar pabrikan di Asia mengalami perlambatan dalam pesanan dan produksi baru, sementara biaya input meningkat, menurut data Purchasing Managers' Index (PMI) yang diterbitkan pada Selasa (2/1/2024) oleh S&P Global, seperti yang diwartakan Bloomberg News.
Hal ini terjadi setelah penurunan serupa terjadi di China, di mana ukuran resmi aktivitas pabrik turun ke level terendah dalam enam bulan di angka 49 pada bulan Desember.
Aktivitas manufaktur di Asia Tenggara juga menyusut pada Desember, dengan Thailand, Myanmar dan Vietnam masih berada di zona merah. Sementara Indonesia mencatatkan angka PMI terbaik di kawasan ini sebesar 52,2, sedangkan Filipina berada di angka 51,5.
“Meskipun penurunan yang terjadi baru-baru ini di sektor manufaktur ASEAN secara keseluruhan hanya bersifat ringan, tanda-tanda pelemahan permintaan yang semakin besar dapat mengakibatkan pengurangan produksi baru saat kita memasuki 2024,” kata ekonom S&P Global Maryam Baluch, mengacu pada 10 negara wilayah Asia Tenggara.
(fad)