Bloomberg Technoz, Jakarta - Permintaan komoditas tembaga global pada 2024 dinilai masih cukup bertaji, sejalan dengan potensi pertumbuhan ekonomi China, sebagai salah satu negara importir terbesar global, serta tren investasi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Dalam kaitan itu, analis komoditas sekaligus Direktur at PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaib mengatakan, potensi permintaan tembaga tersebut terlihat dari proyeksi Asian Development Bank (ADB) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi China mencapai 5% pada 2024.
"Kemudian, pertumbuhan ekonomi global juga [diprediksi] lebih kuat dibandingkan dengan 2023," ujarnya saat dihubungi, Rabu (20//12/2023).
Sekadar catatan, berdasarkan data Administrasi Umum Bea Cukai China (GACC), impor bijih tembaga dan konsentrat China tercatat mencapai 2,44 juta metrik ton (mt) per November 2023, atau naik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 2,41 juta mt.
Secara kumulatif atau selama 11 bulan pertama tahun ini, total impor tembaga Negeri Panda naik 8,4% dari tahun sebelumnya menjadi 25,07 juta mt.

Bertaji Meski Produksi Turun
Sementara itu, menurut Ibrahim, perdagangan komoditas tembagajuga terkerek oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) yang kemungkinan bakal memengaruhi permintaan terhadap perusahaan-perusahaan yang menggunakan tembaga sebagai bahan baku utama produknya.
Ibrahim juga tak menampik bahwa outlook pasar tembaga ke depan akan terus bertaji, meski dibayangi oleh proyeksi penurunan produksi akibat adanya penutupan tambang di Panama dan pengurangan produksi oleh Anglo American.
Penyebabnya, menurut dia, konflik perang dunia yang terjadi di Rusia-Ukraina dan juga Israel-Hamas belakangan ini bisa dibilang dapat menimbulkan berkah terhadap permintaan tembaga ke depan, dengan catatan jika ada perdamaian dalam waktu dekat.
"Ada dua peran besar itu, yang akan membutuhkan bahan dasar tembaga untuk pembangunan," ujar dia.
Ibrahim menilai bahwa perusahaan tak begitu mengkhawatirkan pasokan akibat penutupan tambang yang terjadi belakangan ini serta proyeksi pengurangan produksi tembaga yang bakal mengakibatkan kenaikan harga tembaga.
Terlebih, kekhawatiran itu bakal ditepis oleh geliat pertumbuhan ekonomi China yang juga diharapkan bakal mengatrol impor, hingga tren EV yang juga memerlukan tembaga sebagai bahan bakunya.
"Sehingga permintaan untuk tembaga pun cukup besar, apalagi bersamaan dengan adanya tren EV yang sekarang sudah menggeliat, kebutuhan untuk tembaga pasti akan meningkat cukup tajam."

Proyeksi Harga
Pada perkembangan lain, Ibrahim memproyeksikan harga komoditas tembaga akan bergerak di kisaran US$8.400—US$9.000-an hingga kuartal I-2024.
Pekan lalu, tembaga turun 1,9% menjadi US$8.448/ton di London Metal Exchange (LME), setelah penutupan Jumat pada level tertinggi dalam hampir empat bulan. Dalam sepekan terakhir, harga tembaga turun 0,75% secara point to point (ptp).
Namun, selama sebulan ke belakang, harga naik 3,09%. Kontrak tembaga untuk tenor 3 bulan di LME pada penutupan Selasa (12/12/2023) dibanderol US$8.355/ton, naik 0,17% dari hari sebelumnya.
(wdh)