Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Selasa (19/12/2023), kemungkinan masih akan melemah dibayangi kehati-hatian pasar menanggapi pernyataan hawkish para pejabat Federal Reserve (The Fed) yang mengikis optimisme penurunan bunga acuan.

Rupiah yang kemarin terperosok melemah, seiring dengan tekanan yang juga dialami oleh hampir semua mata uang Asia, sepertinya masih akan sulit bangkit. Alih-alih, rupiah akan semakin tertekan karena sentimen The Fed.

Setelah kemarin pasar terhempas oleh pernyataan tiga pejabat The Fed yang menyangkal ide penurunan bunga acuan terlalu cepat tahun depan, kini ada tiga lagi pejabat bank sentral yang menyatakan hal serupa. Loretta Mester, Presiden Fed Cleveland dan Presiden Fed San Francisco Maria Daly dalam wawancara yang terbit Senin kemarin, menyatakan, ekspektasi penurunan bunga pada awal tahun depan adalah terlalu prematur. Dua pejabat ini memberi suara dalam rapat terbuka FOMC tahun depan.

Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan dia terkejut dengan reaksi pasar yang sangat besar terhadap pembaruan proyeksi ekonomi triwulanan The Fed minggu lalu. “Saya sedikit bingung dengan – apakah pasar hanya berasumsi, 'inilah yang kami ingin mereka katakan?'” kata Goolsbee pada hari Senin dalam sebuah wawancara di CNBC. “Saya pikir tampaknya ada kebingungan tentang cara kerja FOMC. Kami tidak memperdebatkan kebijakan tertentu secara spekulatif mengenai masa depan.”

Indeks dolar AS semalam ditutup menguat 0,01% dan keyakinan di pasar Treasury, surat utang AS, juga masih dibayangi keraguan dengan kenaikan yield mayoritas tenor dipimpin oleh tenor terpanjang 30 tahun yang naik 3,2 basis poin (bps) pagi ini.  Sementara tenor acuan 10 tahun masih bertahan di 3,92%. Perkembangan terakhir itu mempengaruhi pamor obligasi pasar berkembang yang ditutup merah kemarin dan mungkin masih akan berimbas pada pergerakan valuta emerging market hari ini.

Di pasar forward, rupiah pagi ini terlihat bergerak melemah di kisaran lebih rendah dibanding level penutupan di pasar spot. Kontrak Non Deliverable Forward (NDF) 1 bulan pagi ini bergerak naik ke kisaran Rp15.498/US$, lebih kuat dibanding posisi penutupan rupiah spot kemarin ditutup melemah di Rp15.510/US$.

Hari ini Kementerian Keuangan juga menggelar lelang rutin sukuk negara (SBSN) dengan target indikatif Rp9 triliun. Lelang dilangsungkan untuk tujuh seri sukuk. Berkaca dari gelar lelang sebelumnya, ada peluang lelang sukuk hari ini akan cukup diminati oleh para pelaku pasar. Animo asing sejauh ini masih cukup besar dengan mencatat posisi beli sebesar Rp76,66 triliun di pasar SBN sejak awal tahun hingga 14 Desember lalu.

Analisis teknikal

Secara teknikal nilai rupiah masih berpotensi melemah, kali ini target koreksi menuju area level Rp15.550/US$ juga ke support terdekat selanjutnya sampai dengan Rp15.595/US$.

Apabila kembali break support tersebut, berpotensi melanjutkan pelemahan dengan mendekati support terkuat di MA-50 pada Rp15.648/US$.

Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level Rp15.487/US$ pada MA-100 nya dan resistance selanjutnya Rp15.445/US$.

Adapun dalam tren jangka menengah (Mid-term) rupiah masih memiliki potensi penguatan optimis ke level Rp15.350/US$.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah pada Selasa 19 Desember (Divisi Riset Bloomberg Technoz)

(rui)

No more pages