Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah berpeluang menguat hari ini, Kamis (14/12/2023) terungkit oleh euforia pasar global pasca hasil rapat Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat (AS), memberi sinyal paling terang bahwa serial kenaikan bunga acuan secara agresif telah selesai dan bersiap menurunkan bunga acuan tahun depan, diperkirakan sebanyak 75 basis poin (bps).

Rupiah yang telah mencatatkan pelemahan selama tiga hari berturut-turut terseret berbagai sentimen eksternal, memiliki kesempatan untuk berbalik arah hari ini sejurus dengan kembali melemahnya dolar AS. Indeks dolar AS tergerus ke level terendah dalam hampir sebulan. 

Kepastian rencana penurunan bunga acuan The Fed tahun depan akan mengungkit daya tarik aset pasar negara berkembang (emerging market) dengan semakin lebarnya selisih imbal hasil dengan surat utang terbitan pemerintah Negeri Paman Sam. 

Treasury, surat utang AS, mencetak reli harga secara dramatis di semua tenor hingga double digit, dipimpin tenor pendek 2 tahun yang terkikis yield-nya hingga 31,7 bps yang kini di angka 4,41%. Sementara tenor 10 tahun yang menjadi benchmark sudah semakin turun imbal hasilnya menjadi 4,01%.

Indeks harga obligasi negara maju tercatat naik 0,24%, sejurus dengan reli harga obligasi negara berkembang yang mencatat kenaikan 0,66%. Pasar saham juga tak luput dari euforia di mana Wall Street mencetak reli kencang, S&P 500 Index ditutup menguat 1,37% dan DJIA melesat 1,4%.

Lanskap ini akan memberi suntikan katalis bagi rupiah untuk menguat hari ini meski di sisi lain masih ada bayang-bayang sentimen dari China yang kemarin menjegal penguatan aset emerging market.

Di pasar forward pagi ini, kontrak Nondeliverable forward (NDF) rupiah bergerak di kisaran Rp15.508/US$, level yang lebih kuat dibanding posisi penutupan rupiah di pasar spot kemarin di Rp15.660/US$. 

Dari sisi teknikal rupiah memiliki peluang penguatan dengan target potensial ke kisaran Rp15.590/US$ hingga Rp15.540/US$. Level resistance selanjutnya menarik dicermati ada di Rp15.491/US$.

Adapun secara tren jangka menengah, nilai rupiah terkonfirmasi memiliki support di Rp15.705/US$, juga  Rp15.740/US$ dan Rp15.770/US$ sebagai support terkuat, tercermin dari time frame daily dan menggaris chart dalam tren satu tahun ke belakang.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Kamis 14 Desember (Divisi Riset Bloomberg Technoz)

The Fed pivot

The Fed mempertahankan bunga acuan dalam FOMC yang digelar 12-13 Desember kemarin, sesuai ekspektasi pasar. The Fed menahan bunga di 5,5%, tertinggi sejak 2001. Akan tetapi, dalam pernyataannya, bank sentral paling berpengaruh di dunia itu memberi sinyal paling jelas bahwa kampanye kenaikan suku bunga yang agresif telah selesai, dengan memperkirakan serangkaian pemotongan tahun depan.

Pejabat The Fed tidak memperkirakan ada kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam proyeksi mereka untuk pertama kalinya sejak Maret 2021, berdasarkan estimasi median.

Proyeksi kuartalan menunjukkan bahwa para pejabat Federal Reserve memperkirakan akan menurunkan suku bunga sebesar 75 basis poin tahun depan, sebuah laju pemotongan yang lebih tajam dibandingkan dengan yang diindikasikan pada bulan September. Meskipun ekspektasi median untuk tingkat suku pada akhir tahun 2024 adalah 4,6%, ekspektasi individu sangat bervariasi.

'Dot plot' The Fed menunjukkan bahwa delapan pejabat melihat kurang dari tiga pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin tahun depan, sementara lima mengantisipasi lebih banyak lagi.

(rui)

No more pages