Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Saham PT Pertamina Geothermal Energi Tbk (PGEO) terhenti pada posisi Rp 875 pada hari pertama saat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai transaksi saham ini nyaris mencapai Rp 500 miliar di hari pertama.  

Pada perdagangan sesi I, saham PGEO sempat terseok-seok. Sempat turun ke level terendah dan mendapatkan penolakan otomatis atau auto reject bawah (ARB) karena turun 6,86% ke level Rp 815 atau turun 60 poin.

Nilai transaksi saham PGEO mencapai Rp 488,82 miliar dengan volume saham yang ditransaksikan mencapai 585,54 juta saham. Saat IPO, anak usaha pertamina ini mendapatkan total dana Rp 9,06 triliun.

Menurut Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, melemahnya harga saham PT Pertamina Geothermal Energi Tbk (PGEO) pada awal pencatatan, Jumat (24/2/2023), merupakan dinamika yang biasa terjadi di pasar modal Indonesia.

“Itu kan dinamika pasar, harga bisa naik dan bisa turun. Orang mau jual, orang mau beli terserah. Tapi yang paling penting adalah fundamental of the company still strong,” kata Oki Ramadhana di sela-sela pencatatan saham perdana PGEO, Jumat (24/2/2023).

Mandiri Sekuritas bersama CLSA Sekuritas Indonesia, PT Credit Suisse Sekuritas Indonesia, bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek PGEO.

Oki menerangkan kinerja keuangan Pertamina Geothermal dalam beberapa waktu terakhir masih tergolong baik. “Growth story-nya still, growth story-nya masih bagus banget,” ucap Oki.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pahala Mansury menambahkan, kesuksesan sebuah IPO bukan didasari atas kenaikan atau penurunan harga saham setelah pencatatan saham perdana. Justru indikator kesuksesan adalah perolehan dana dari hasil penawaran saham PGEO.

“Saya rasa kalau dibilang tidak sukses, tidak betul. Kita harus melihat IPO dari jumlah dana yang diperoleh ini, sekitar Rp 9 triliun,” jelas Pahala. Terlebih, perseroan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebagai 3,8 kali selama penawaran umum pada 20-23 Februari kemarin. 

Kinerja PGEO yang baik, lanjut Pahala, jadi indikator fundamental dalam melihat sebuah saham prospektif. “Jumlah yang ditawarkan dibandingkan dengan jumlah kebutuhan dana kita, ternyata oversubscribed. Kita lihat nanti kinerjanya. Harapan kami pasar modal melihat bagaimana fundamental dan peningkatan kinerja perusahaan,” jelas Pahala.

Perseroan melepas 10.350.000.000 saham atau mewakili 25% dari modal ditempatkan perusahaan dengan harga Rp 875/lembar.

Kinerja keuangan PGEO hingga kuartal III-2022 mencatat pendapatan usaha US$ 287,39 juta, atau naik 3,9% dari posisi sebelumnya US$ 276,6 juta. Secara tahunan pendapatan perseroan tahun 2019 sebesar US$ 666,87 juta. Pada 2020 US$ 353,96 juta dan setahun berselang tercatat US$ 368,8 juta.

Laba bersih Pertamina Geothermal juga meningkat 67% dari US$ 66,4 juta pada kuartal III-2021 menjadi US$ 111,43 juta. Untuk laba tahunan periode 2019 hingga 2021 masing-masing US$ 95,58 juta, US$ 72,8 juta dan US$ 85 juta. 

Total aset PGEO per 30 September 2022 sebesar US$ 2,44 miliar. Naik tipis dari periode sebelumnya US$ 2,40 miliar. Angka ekuitas tercatat US$ 1,31 miliar dengan liabilitas US$ 1,31 miliar.

Usai resmi sebagai perusahaan publik, komposisi kepemilikan saham Pertamina Geothermal menjadi tiga pihak. Pertama, PT Pertamina Power Indonesia (PPI) memiliki 28.568.460.000 lembar atau 69,01% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Kemudian PT Pertamina Pedeve Indonesia (Pedeve) 2.477.682.000 lembar (5,99%) dan sisanya masyarakat 10.350.000.000 lembar (25%).

Berdasarkan pantauan pada pukul 11.33 WIB, saham PGEO telah diperdagangkan sebanyak 35.577 kali dengan nilai Rp 363,59 miliar dan volume transaksi sebanyak 436.880.900.

(hps/wep)

No more pages