Bloomberg Technoz, Jakarta – Pemerintah menjanjikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Terapung Cirata, yang berkapasitas terbesar di Asia Tenggara serta ketiga dunia, menawarkan tarif listrik yang lebih murah dan efisien bagi pelanggan PT PLN (Persero).
Tarif PLTS Terapung Cirata dibanderol US$5,81 sen/kWh (sekitar Rp20.184/kWh), lebih murah dibandingkan dengan rerata tarif listrik dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara yang berada di rentang US$6 sen—US$8 sen per kWh.
“[Tarif PLTS Terapung Cirata] diharapkan dapat menurunkan biaya pokok penyediaan [BPP] tenaga listrik dan membuat PLN lebih mandiri, serta mengurangi ketergantungan terhadap anggaran subsidi atau kompensasi,” menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dikutip Kamis (9/11/2023).
PLTS Terapung Cirata, yang hari ini baru diresmikan Presiden Joko Widodo, memiliki kapasitas 192 MWp dan diklaim dapat mengoptimalkan potensi PLTS terapung di waduk dan bendungan lainnya di Indonesia, dengan potensi total kapasitas 89,36 GW di 295 lokasi.
Potensi tersebut terdiri atas PLTS terapung di danau sebesar 74,67 GW di 36 lokasi dan PLTS terapung di bendungan sebesar 14,7 GW di 259 lokasi.
Lalu, potensi kapasitas dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di bendungan sebanyak 567,4 MW yang terdiri dari 557,3 MW (59 bendungan) dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN 2021—2030 dan 10,8 MW (8 bendungan) di luar RUPTL. Di samping itu juga terdapat rencana pembangunan pump storage sebesar 4,2 GW pada 2030.
Dalam pidato peresmiannya hari ini, Jokowi mengatakan lokasi PLTS Terapung Cirata di Purwakarta, Jawa Barat yang berdampingan dengan PLTA Cirata juga menjadi keunikan tersendiri.
"Kita berhasil membuat PLTS Terapung terbesar di Asia Tenggara dan nomor 3 di dunia. Di Cirata ini sudah ada PLTA dengan kapasitas 1.000 MW dan ditambah PLTS terapung sebesar 192 MWp," katanya.
Menurut Presiden, PLTS Terapung Cirata juga merupakan salah satu upaya dalam mewujudkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber energi pembangkit listrik di Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan PLTS tersebut akan memberikan kontribusi terhadap pencapaian target emisi nol bersig atau net zero emission (NZE) sebesar 245 GWh per tahun dan mengurangi emisi sebesar 214.000 ton per tahun.
"Kapasitas PLTS Terapung Cirata masih bisa dikembangkan lebih besar lagi, dengan total potensi maksimum mencapai sekitar 1,2 GWp apabila memanfaatkan 20% dari luas total waduk Cirata," tuturnya.
Selain itu, Arifin menuturkan, pengembangan pembangkit solar PV skala besar ini bisa menjadi daya tarik industri untuk membuat bahan baku solar PV. "Harapannya, nanti bahan baku ke depan bisa dikembangkan di indonesia supaya TKDN-nya bisa full," ungkapnya.
Adapun, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan perseroan telah merencanakan pembangunan PLTS sejak 2021. PLTS Terapung Cirata sendiri merupakan proyek strategis nasional (PSN) yang memasok energi bersih untuk sistem kelistrikan wilayah Jawa—Bali.
"PLTS Terapung Cirata menjadi etalase kerja sama global mewujudkan penurunan emisi dalam percepatan transisi energi menuju NZE pada 2060," ujarnya.
PLTS Terapung Cirata adalah hasil kolaborasi dua negara yakni Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA), yang melibatkan subholding PLN Nusantara Power dengan Masdar dari UEA.
Dalam pengerjaannya, proyek PLTS Terapung Cirata melibatkan pekerja dari warga sekitar sebanyak kurang lebih 1.400 pekerja dari komunitas lokal sekitar proyek dan UMKM sekitar.
Selain itu, melalui inovasi teknologi tinggi mampu mengatasi kedalaman waduk menantang 80—100 meter, kemiringan 5—20 derajat, variasi level elevasi air waduk hingga 15 meter, dan penggunaan desain khusus untuk anchoring dan mooring dengan dasar waduk yang berlumpur.
(wdh)