Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Memang Lemah, Tapi Tak Separah Mata Uang Tetangga

Mis Fransiska Dewi
03 November 2023 09:30

Pelanggan menghitung uang dolar AS di salah satu pusat penukaran uang di Jakarta, Rabu (11/10/2023). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pelanggan menghitung uang dolar AS di salah satu pusat penukaran uang di Jakarta, Rabu (11/10/2023). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Seiring tren suku bunga tinggi, nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS) menguat tajam. Akibatnya, berbagai mata uang mengalami depresiasi, tidak terkecuali rupiah.

Pada Jumat (3/11/2023) pukul 09:20 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 15.785. Rupiah menguat 0,41% dibandingkan hari sebelumnya.

Namun, rupiah belum lepas dari tren negatif. Sepanjang Oktober, rupiah melemah 2,78%. Mata uang Ibu Pertiwi melemah 6 bulan berturut-turut.

Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan yang juga Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), menyebut penguatan dolar AS mendorong pelemahan mata uang negara-negara lain termasuk rupiah. Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama) menguat 2,93% sepanjang tahun ini (year-to-date/ytd).

"Penguatan nilai tukar dolar AS memberikan tekanan depresiasi terhadap mata uang negara-negara lain. Yen Jepang melemah 12,61%, ringgit Malaysia 7,82%, dan baht Thailand 4,39%," kata Sri Mulyani saat konferensi pers KSSK periode kuartal III-2023, Jumat (3/11/2023).