Bloomberg Technoz, Jakarta - Para penyuka investasi emas mungkin tengah sedikit galau belakangan ini. Pasalnya, harga emas terus menurun seiring semakin perkasanya dolar Amerika Serikat gara-gara sentimen bunga acuan The Federal Reserves yang diprediksi akan makin melesat naik.
Di pasar spot global, harga emas terus tertekan sejak pekan lalu dan diperdagangkan melemah 0,2% pada Senin pagi (20/2/2023) di level US$ 1.837,96 per troy ounce. Pekan lalu harga emas sudah tertekan sekitar 1,2% kontras dengan kenaikan harga dolar AS. Bukan cuma emas yang terperosok, komoditi logam lain seperti perak, platinum dan paladium juga ikut tertekan harga dolar AS.

Di pasar dalam negeri, harga emas fisik yaitu emas batangan Antam di Butik Emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam), melanjutkan penurunan Rp 2.000 per gram. Alhasil harga emas batangan Antam saat ini terhenti di level Rp 1,020 per gram. Harga beli kembali (buyback) ikut terseret turun yaitu dari Rp 907.000 per gram akhir pekan lalu menjadi Rp 905.000 per gram.
Selisih antara harga jual (harga saat kita membeli emas Antam) dan harga buyback (harga ketika kita menjual emas kepada Antam) mencapai Rp 115.000. Jarak harga ini semakin lebar, bandingkan dengan tahun 2019 di mana selisih harga jual dan buyback masih di bawah Rp 100.000 per gram. Dengan demikian, bila Anda membeli emas pada pekan lalu seharga Rp 1,022 juta dan menjualnya awal pekan ini, maka kerugian Anda mencapai 11,4%.
Gambaran itu menegaskan lagi-lagi tentang cara terbaik memperlakukan emas adalah menempatkannya sebagai alat lindung nilai (hedging) dari inflasi jangka panjang, di atas tiga tahun. Pada akhir 2019 silam, berdasarkan data di website Logam Mulia Antam, harga emas Antam masih sebesar Rp 762.000 per gram.
Jadi, bila Anda membeli emas saat itu, maka saat ini nilai aset emas Antam Anda sudah naik 34,1%. Namun, bila Anda menjualnya, nilai keuntungan Anda baru sebesar 18,8% karena yang menjadi acuan harga jual adalah harga buyback saat ini sebesar Rp 905.000 per gram.
Supaya emas memberi keuntungan optimal dalam keranjang aset Anda, terapkan beberapa prinsip berikut:
1. Perlakukan Sebagai Alat Hedging
Emas adalah salah satu pilihan instrumen yang efektif untuk membantu melindungi aset dari gerusan inflasi jangka panjang. Kisaran tahun 2013 silam, harga emas masih di kisaran Rp 520.000-an per gram dan kini sudah di posisi Rp 1,022 juta per gram. Kenaikan dalam 10 tahun terakhir mencapai lebih dari 90% atau sekitar 9% per tahun.

Sedangkan tingkat inflasi dalam 10 tahun terakhir adalah 4,23% dengan tingkat inflasi tertinggi pada Desember 2014 di posisi 8,36% dan terendah pada akhir 2020 sebesar 1,68%. Adapun harga emas di pasar spot global dalam 10 tahun terakhir rata-rata di kisaran US$ 1.462 per troy ounce dengan titik tertinggi terjadi pada akhir Desember 2020 ke posisi US$ 1.898,36 per troy ounce.
Dengan demikian, tingkat kenaikan harga emas di pasar domestik maupun di pasar global, masih jauh di atas tingkat inflasi tahunan dalam 10 tahun terakhir. Artinya, emas masih efektif sebagai instrumen hedging jangka panjang.
2. Emas Fisik atau Digital, Sesuaikan Kebutuhan
Saat ini membeli emas tidak hanya terbatas pilihan pada emas fisik saja. Membeli emas fisik memang lebih “tuntas” karena cara cash and carry ini mengeliminasi risiko gagal cetak. Anda beli emas dan langsung bisa menyimpannya atau suatu ketika menjualnya saat membutuhkan dana likuid. Namun, membeli emas fisik menuntut Anda menyediakan tempat penyimpanan yang aman. Terlebih bila emas batangan Anda semakin banyak.
Saat ini sudah muncul opsi membeli emas digital yang memungkinkan Anda memiliki emas tanpa menyimpan fisiknya. Opsi pembelian secara digital juga memungkinkan investor membeli dengan cara menyicil sesuai kemampuan dana dan baru mencetak saat sudah terkumpul jumlah gram yang memadai. Usahakan membeli emas digital pada entitas yang berizin dan kredibel.
3. Beli Emas untuk Jangka Panjang
Emas hanya akan menguntungkan bila disimpan sebagai investasi jangka panjang. Terutama bila Anda memilih instrumen emas fisik seperti emas batangan atau koin emas. Memperlakukannya sebagai investasi jangka pendek akan terlalu berisiko. Dalam 10 tahun terakhir pertumbuhan harga emas rata-rata sebesar 9%, jauh di atas rata-rata tingkat inflasi tahunan yang mencapai 4,23%.
4. Hindari Latah
Ada banyak kasus investasi bodong yang dipicu oleh kelatahan berinvestasi. Anda tentu ingat kasus Golden Trader Indonesia (GTI) yang meletus sekitar tahun 2011 silam yang memakan banyak korban. Skema investasi bodong GTI banyak memikat korban memanfaatkan euforia masyarakat terhadap emas yang tengah naik tinggi harganya.
Hindari juga membeli emas digital pada entitas yang belum mengantongi izin resmi sebagai pedagang emas digital. Kasus emas Tamasia yang meletus awal tahun ini bisa menjadi pengingat supaya terhindar dari kejadian yang kurang diinginkan.
5. Pilih Emas Batangan, Jangan Perhiasan
Bila diniatkan sebagai alat hedging atau investasi, sebaiknya Anda memilih emas batangan alih-alih perhiasan emas. Pasalnya, bila membeli perhiasan emas dan kelak menjualnya, harga jualnya akan terpotong biaya pembuatan perhiasan yang bisa mencapai 20% dari harga. Sedang bila emas batangan, Anda hanya perlu berpatokan pada acuan harga buyback price. Selama kondisi emas batangan Anda masih bagus dan lengkap dengan sertifikat, Anda masih bisa berharap harganya oke dan menguntungkan.
(rui/aji)