Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, mengungkapkan literasi keuangan menjadi solusi agar masyarakat tidak terjebak dalam investasi bodong. Ia mengatakan bahwa masyarakat perlu benar-benar menyadari risiko dalam investasi yang mereka lakukan. 

“Selama masyarakat hanya melihat janji dan keuntungan maka mereka akan selalu terjebak. Itu terjadi sejak 30 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu, sampai hari ini masih sama. Setiap orang harus menyadari bahwa ada resiko. Setiap kali orang menjanjikan keuntungan yang besar, risikonya juga semakin besar,” kata Rhenald di Jakarta.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selama 9 tahun terakhir, indeks literasi dan inklusi keuangan Indonesia terus meningkat. Tahun lalu, tingkat literasi keuangan Indonesia berada di level 49,68% dengan inklusi keuangan berada di level 85,10%.

Dilihat dari sektor keuangan, tingkat literasi tertinggi berada di sektor perbankan yaitu sebesar 49,93%. Sementara, literasi terendah berada di sektor pasar modal yaitu sebesar 4,11%. 

Selama Januari 2023, Satgas Waspada Investasi (SWI) OJK juga menemukan 10 entitas yang menawarkan investasi tanpa izin. Dua entitas melakukan kegiatan money game, dua entitas melakukan kegiatan aset kripto tanpa izin, dua entitas menjalankan kegiatan penyelenggaraan haji dan umroh. Termasuk ada empat entitas melakukan kegiatan tanpa izin lainnya. Selain itu, SWI OJK  juga menemukan 50 pinjaman online tidak berizin.

Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI), Tongam L Tobing. (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

"Ini menunjukkan penawaran investasi dan pinjol ilegal masih terus mencari korban. Kondisi ini harus diwaspadai masyarakat untuk selalu berhati-hati memilih investasi dan memanfaatkan pinjaman online," kata Tongam Tobing, Ketua SWI  dalam siaran pers OJK (2/2/2023).

Rhenald menilai masyarakat kerap terlena dengan tawaran keuntungan investasi yang tinggi. Oleh karena itu, setiap orang perlu meningkatkan literasi keuangannya agar tidak terjebak investasi bodong.  

“Solusinya ya pada masing-masing orang, tingkatkan literasi keuangan. Jangan hanya lihat uangnya besar. Mereka (para pelaku) itu selalu menggunakan cara massa yang banyak, sehingga nasabah merasa ketinggalan kalau tidak ikut,” kata Rhenald. 

Hal senada juga diungkapkan oleh Perencana Keuangan Safir Senduk. Selain kurang teredukasi secara keuangan, faktor emosi juga menjadi penyebab seseorang terjebak dalam investasi bodong. Bahkan, menurutnya, orang dengan tingkat pendidikan tinggi pun dapat terjebak karena  mengambil keputusan secara emosional saat berinvestasi. 

“Kalau sudah tidak teredukasi secara keuangan, plus dia emosional, itu double (bahayanya). Penyebab kedua adalah sifat serakah ketika ditawari investasi dengan hasil besar. Sudah hasil besar, tiap bulan lagi. Siapa  yang tidak mau?” ungkap Safir.

Kalkulasi Sebelum Investasi, Jangan Tergiur Bujukan Bonus

Melihat fenomena ini, Rhenald Kasali mengungkapkan bahwa masyarakat yang ingin berinvestasi perlu melakukan perhitungan yang tepat saat melakukan investasi, khususnya dalam jumlah besar. Ia menekankan penting untuk memeriksa apakah investasi yang dituju resmi atau tidak karena semakin tinggi imbal hasil yang ditawarkan, semakin mencurigakan investasi tersebut.

“Banyak sekali orang yang tidak berhitung tapi mengambil keputusan cepat. Dia harus berhitung dan cari informasi dulu. Jadi, orang harus diajari bahwa menguji kebenaran itu perlu waktu dan tidak boleh bernafsu. Bernafsu itu bagian dari keserakahan kita, itu yang akan membuat kita terpuruk,” jelasnya.

Investasi di tengah inflasi tinggi dan ancaman resesi global (Dimas Ardian/Bloomberg)

Oleh karena itu, menurut Safir, kemampuan untuk mengendalikan emosi dan mempertimbangkan keputusan sangat penting. “Kalau kita ditawari investasi, biasanya ada kata-kata ‘kalau masuk hari ini, akan dapat bonus ini itu’. Jangan (diambil), minimal pulang dulu dan pikirkan. Kalau investasi itu oke, besok kembali lagi dan baru investasi di situ. Kalau harus putuskan hari itu juga, menjauh dulu dan duduk sebentar, pikirkan, baru kembali lagi,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Rhenald mengatakan, pendidikan literasi dalam berinvestasi harus gencar dilakukan melalui saluran media sosial resmi lembaga keuangan. “Sekarang itu yang mendidik masyarakat adalah Youtuber. Ada yang benar, ada yang tidak benar. Ada yang mengajarkan orang padahal dia pemain juga. Jadi harus lembaga resmi yang melakukannya sehingga tidak sembarangan bisa mempengaruhi orang,” tambah Rhenald. 

Sebagai tambahan, Safir mengatakan, investasi lebih baik dilakukan pada instrumen dengan imbal hasil yang tidak terlalu tinggi atau rendah. Syarat lain adalah harus terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Beberapa instrumen yang memenuhi kriteria tersebut, menurut Safir, ialah obligasi, reksadana, dan emas.  

“Lebih baik investasi ke tempat yang hasilnya tidak kecil dan tidak besar tapi terdaftar dan diawasi OJK dan kita lakukan per bulan. Jumlah yang diinvestasikan jauh lebih penting dari return yang didapatkan. Percuma kejar return besar tapi kita tidak rutin investasi,” tutupnya.

(tar/wep)

No more pages