Bloomberg Technoz, Jakarta - Para pensiunan kini mulai merasakan ‘cubitan’ karena penggunaan fitur buy-now pay-later (BNPL). Hal ini menandakan krisis biaya hidup (cost-of-living crisis) di Inggris sepertinya sudah semakin parah.
Hampir seperlima dari warga berusia 65 tahun ke atas mengungkapkan mereka menggunakan fasilitas BNPL yang ditawarkan berbagai perusahaan teknologi finansial (tekfin). Angka ini lahir dari survei terhadap 2.061 orang yang dilakukan oleh Centre for Financial Capability, sebuah lembaga amal pendidikan di Inggris.
Hampir separuh dari warga berusia 65 tahun ke atas mengaku alasan menggunakan BNPL adalah lebih mudah mengalokasikan dana karena fitur cicilan. Maklum, mereka harus mengelola pendapatan yang tetap.
“Saat biaya-biaya naik, kemungkinan penggunaan skema BNPL yang tidak diatur akan meningkat. Konsumen juga harus memiliki rasa tanggung jawab, fokus kami adalah kurangnya literasi keuangan yang bisa menyebabkan jeratan utang,” tegas Jane Goodland, Ketua Centre for Financial Capability.
BNPL ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan tekfin seperti Klarna, Clearpay, dan PayPal. Pengguna bisa memanfaatkan cicilan bulanan untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Regulator kini sedang betul-betul memantau segala bentuk penawaran BNPL. Sebab, ada kecenderungan peningkatan utang dan ketergantungan masyarakat terhadap kredit instan bahkan untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari.
Gen-Z dan milenial adalah yang terbanyak dalam menggunakan fasilitas kredit instan ini. Separuh dari warga berusia 18-34 tahun mengatakan pernah menggunakannya, naik dari 44% tahun lalu.
Permintaan akan layanan BNPL ditemukan di seluruh kelompok usia di Inggris. Sekitar 36% orang dewasa pernah menggunakan BNPL. Naik 7 poin persentase dari tahun lalu.
Penggunaan BNPL melonjak saat pandemi dan diperkirakan nilainya bisa mencapai US$ 600 miliar pada 2026, berdasarkan proyeksi Global Data. Mengutip kurs referensi Bank Indonesia (BI) tertanggal 16 Januari 2023, US$ 1 setara dengan Rp 15.019. Jadi US$ 600 miliar sama dengan Rp 9.011,4 triliun.
Setelah bertahun-tahun tumbuh cepat, kenaikan suku bunga membuat margin bisnis ini tergerus. Sayangnya, ini bertepatan dengan lonjakan inflasi sehingga kredit lebih menggiurkan bagi konsumen. Juga lebih berbahaya.
(aji)