Daniel Flatley - Bloomberg News
Bloomberg, Amerika Serikat (AS) dan Qatar secara informal sepakat untuk menunda pendistribusian pendapatan minyak sebesar US$6 miliar (Rp 94,2 triliun) yang diizinkan untuk diakses Iran.
Hal ini dilakukan menyusul kecurigaan AS soal potensi keterlibatan Iran dalam serangan Hamas pekan lalu terhadap Israel.
Seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan Departemen Keuangan AS memiliki kesepakatan diam-diam dengan Qatar, yang bertugas mendistribusikan dana minyak, untuk tidak menyetujui penggunaan dana itu yang dapat dibelanjakan oleh organisasi-organisasi Iran untuk obat-obatan dan barang-barang kemanusiaan.
Wakil Menteri Keuangan Wally Adeyemo sempat memberi pengarahan kepada anggota Demokrat di Kongres AS tentang langkah tersebut pada Kamis (12/10/2023), kata sumber yang meminta tidak disebutkan namanya karena membicarakan informasi rahasia.
Dana hasil penjualan minyak itu ditransfer dari Korea Selatan ke Qatar sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai pada bulan September untuk menukar warga AS yang ditahan di penjara Iran dengan beberapa warga Iran di penjara AS.
Departemen Keuangan AS tidak segera merespons permintaan tanggapan. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan tidak ada uang yang telah dibelanjakan sejauh ini. Kabar itu dilaporkan sebelumnya oleh Punchbowl News.

"Dana dari rekening itu diawasi oleh Departemen Keuangan AS dan hanya dapat digunakan untuk barang-barang kemanusiaan - makanan, obat-obatan, peralatan medis - dan tidak pernah menyentuh tangan Iran," kata Blinken kepada wartawan di Tel Aviv.
"Kami memiliki pengawasan yang ketat atas dana tersebut dan kami berhak untuk membekukannya."
Di sisi lain, Iran mengatakan masih memiliki akses ke uang tersebut.
"Tidak ada perubahan dalam masalah akses Iran ke dananya di bank-bank Qatar," lapor Nour News, media pemerintah Iran.
Seorang pejabat AS mengatakan pada Rabu bahwa badan intelijen masih belum memiliki bukti bahwa Iran mengarahkan serangan yang menewaskan setidaknya 1.200 orang Israel itu.
Namun, menurut pejabat itu, badan-badan tersebut percaya Iran tahu Hamas, yang ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh AS dan Uni Eropa, sedang merencanakan beberapa tindakan terhadap Israel.
Pertukaran tahanan AS dan Iran adalah proses yang rumit dan berlarut-larut yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Pada tahun 2023, pemerintah AS dan Iran akhirnya mencapai kesepakatan untuk membebaskan dua warga AS yang ditahan di Iran, termasuk seorang perempuan bernama Nazanin Zaghari-Ratcliffe, sebagai ganti pembebasan beberapa warga Iran yang ditahan di penjara AS.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Iran setuju untuk memindahkan hasil penjualan minyak senilai US$ 6 miliar dari Korsel ke Qatar.
Kesepakatan dana US$ 6 miliar dapat terjadi karena kedua negara memiliki kepentingan yang sama. AS ingin membebaskan Zaghari-Ratcliffe, sementara Iran ingin meningkatkan hubungan ekonominya dengan dunia internasional.
Dana tersebut juga dapat dilihat sebagai simbol rekonsiliasi antara kedua negara. AS dan Iran memiliki hubungan yang tegang selama bertahun-tahun, tetapi kesepakatan pertukaran tahanan menunjukkan bahwa kedua negara masih dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
(bbn)