Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga batu bara melesat pada perdagangan kemarin. Maklum, harga si batu hitam sudah jatuh lumayan dalam.

Pada Kamis (12/10/223), harga batu bara di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 142,65/ton. Melonjak 1,53% dibandingkan sehari sebelumnya.

Kenaikan ini terjadi setelah harga turun nyaris 1% pada hari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga batu bara masih turun 1,62% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga anjlok 10,28%.

Harga batu bara naik seiring kenaikan harga komoditas energi secara keseluruhan. Kemarin, harga minyak jenis Brent ditutup naik 0,21%. Sementara harga gas alam TTF Belanda melonjak 15,05%.

Kenaikan ini disebabkan oleh pernyataan terbaru dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam acara Pekan Energi Rusia, Putin memberi sinyal negara-negara OPEC+ masih berkomitmen untuk mengurangi produksi minyak.

“Saya meyakini koordinasi di antara mitra OPEC+ akan terus berlanjut. Ini penting untuk mewujudkan pasar yang lebih bisa diprediksi dan kesejahteraan umat manusia,” tegas Putin, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Dampak langsung dari komentar tersebut tentu harga minyak naik. Kemudian saat harga minyak mahal, maka komoditas energi lain tentu akan terpengaruh karena perannya yang saling menggantikan (substitusi), tidak terkecuali batu bara.

Analisis Teknikal

Secara teknikal dalam perspektif harian, sejatinya batu bara masih bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 29,66.

RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Bahkan batu bara sudah tergolong jenuh jual (oversold) karena RSI yang sudah di bawah 30.

Oleh karena itu, ruang kenaikan harga menjadi terbuka karena dorongan technical rebound. Target kenaikan terdekat ada di US$ 147/ton. Jika tertembus, maka ada kemungkinan naik lagi menuju US$ 154/ton.

Target paling optimistis adalah US$ 184/ton.

(aji)

No more pages