Bloomberg Technoz, Jakarta - Jelang berakhirnya perdagangan di pasar spot hari ini, nilai tukar rupiah berhasil berbalik arah menguat, meninggalkan zona Rp15.600-an.
Pemantauan di pasar spot pada pukul 14:45 WIB, Selasa (3/10/2023), nilai tukar rupiah menghadapi dolar Amerika beringsut menguat ke kisaran Rp15.591/US$, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terlemah sejak awal Januari di Rp15.613/US$.
Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate), sampai pukul 15:15 WIB, masih tertahan di Rp15.600/US$, melemah 81 bps dari posisi penutupan kemarin. Itu adalah posisi terlemah rupiah sejak 6 Januari lalu.
Bank Indonesia turun ke pasar melakukan intervensi agar pelemahan rupiah tidak semakin liar.
Seperti dilansir oleh Bloomberg News siang ini, Edi Susianto, Direktur Eksekutif Bank Indonesia Bidang Pengelolaan Moneter menyatakan, bank sentral melihat tingkat imbal hasil surat utang negara sejauh ini masih terkendali.
Bank Indonesia, ujar Edi, saat ini melakukan intervensi di pasar spot valas dan pasar forward NDF untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan juga menjaga ekspektasi.
Bank sentral terus memantau tingkat yield SUN dan tetap terbuka untuk menenangkan gejolak di pasar obligasi domestik jika perlu.
Sampai siang menjelang sore ini, yield SUN 10 tahun sedikit kalem ke kisaran 6,98% setelah menyentuh 7%. Tenor 15 tahun sejauh ini mencatat kenaikan yield tertinggi hingga 11,7 bps menjadi 7,14%.
Kementerian Keuangan RI melaporkan, pada 2 Oktober lalu ketika rupiah mengalami tekanan cukup besar, pemodal asing justru mencatat pembelian bersih SBN senilai Rp1,64 triliun sehingga posisi kepemilikan asing saat ini ada di Rp824,64 triliun.
Selama September, pemodal nonresiden telah menjual SBN sedikitnya sebesar US$ 1,1 miliar, sekitar Rp17,14 triliun.
Pada kesempatan sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo beberapa kali menegaskan, opsi menaikkan bunga acuan tidak dilirik sebagai 'obat' mengatasi dampak rambatan ketidakpastian global, meskipun misalnya bunga acuan Indonesia dan Amerika bakal setara di 5,75%.
BI memaksimalkan upaya intervensi langsung di pasar spot maupun NDF menggunakan cadangan devisa yang sejauh ini masih cukup memadai menurut perhitungan bank sentral.
Sementara posisi cadangan devisa RI sampai Agustus lalu tergerus ke US$ 137,1 miliar, terendah sejak Oktober tahun lalu. Penurunan cadev RI bulan Agustus akibat BI banyak melakukan intervensi sejurus dengan tekanan pada rupiah ketika itu.
Tidak ada keharusan dan kebutuhan bagi Bank Indonesia untuk mengikuti langkah the Fed yang menaikkan bunga acuan, demikian dinyatakan oleh Perry dalam acara ASEAN di Jakarta akhir Agustus lalu.
Pernyataan tersebut adalah penegasan kesekian kali kepercayaan diri bank sentral akan dapat mengendalikan dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian domestik.
"Yang terpenting bukanlah kebijakan bunga acuan akan tetapi tingkat imbal hasil surat utang negara. Arus masuk modal asing merespons tingkat imbal hasil SUN, makanya kami melakukan twist operation," kata Perry.
Twist operation kini telah diakhiri dengan BI merilis instrumen operasi moneter baru bernama Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang sejauh ini baru digelar lelangnya 4 kali dan dinilai para analis belum cukup mumpuni menahan tekanan pada rupiah.
Esok, BI akan kembali menggelar lelang SRBI dan diharapkan itu bisa menarik dana asing untuk 'singgah' di instrumen jangka pendek yang menawarkan yield menarik.
Dalam lelang terakhir pekan lalu, animo pemodal menurun drastis dengan bidding amount hanya Rp11,52 triliun.
(rui)