Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Fenomena El Nino menyebabkan pasokan beras di Indonesia terganggu. Akibatnya, harga pun melambung tinggi, baik di tingkat petani maupun konsumen.

"Sejalan dengan pasokan padi yang turun akibat penurunan luas panen juga dampak El Nino, harga gabah mengalami kenaikan," kata Amalia Adininggar Widyasanti, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Senin (2/10/2023).

Rata-rata harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik 11,69% pada September dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Dibandingkan dengan September tahun lalu (year-on-year/yoy), harga melesat 26,7%.

Sedangkan harga Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani naik 9,26% mtm dan 27,31% yoy.

"Secara mtm, kenaikan harga gabah September 2023 lebih tinggi dari September tahun lalu," tambah Winny, sapaan akrab Amalia.

Kenaikan ini, lanjut Winny, membuat kesejahteraan petani meningkat. Indeks Harga yang Diterima (IP) petani pada September naik 2,27%. Ini adalah kenaikan tertinggi sepanjang 2023.

Perkembangan Statistik Gabah. (Dok. BPS)

Namun di tingkat grosir dan eceran, harga yang dibayar untuk membeli beras jadi makin mahal. Di level grosir, harga beras naik 6,29% mtm dan 21,02% yoy.

Sementara di level eceran, harga beras naik 5,61% mtm dan 18,44% yoy.

Perkembangan Harga Beras di Setiap Level Perdagangan. (Dok. BPS)

"Pada September 2023, inflasi beras mencapai 5,61% mtm dengan andil 0,18%. Inflasi beras September 2023 merupakan yang tertinggi sejak Februari 2018," ungkap Winny.

(aji)

No more pages