Bloomberg Technoz, Jakarta - Penerapan Harga Pokok Penjualan (HPP) gabah atau beras dinilai mengekang strategi Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam menyerap beras petani lantaran terlampau rendah dari harga pasaran.
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hasran menyebut pemerintah perlu mengevaluasi besaran HPP dengan memperhatikan faktor-faktor dalam proses produksi dan distribusi. Dengan mempertimbangkan proses produksi yang belum efisien, harga gabah sudah terbilang mahal sejak awal.
"Selain itu, masih belum efisiennya proses, panjangnya rantai pasok dan luasnya wilayah Indonesia, juga perlu jadi pertimbangan” katanya melalui keterangan resmi yang diterima oleh Bloomberg Technoz, seperti dikutip Senin (13/2/2023).
Terkait distribusi, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tahun lalu berdampak cukup signifikan terhadap harga pangan, termasuk beras. Kenaikan harga gas juga berdampak pada harga pupuk. “Hal-hal seperti ini tentu mempengaruhi margin keuntungan yang didapat petani,” tambahnya.
Saat ini, aturan HPP gabah atau beras masih mengacu kepada Peraturan Menteri Perdagangan No. 24/2020, yang menetapkan harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani Rp 4.200 per kilogram (kg), GKP di tingkat penggilingan Rp 4.250 per kg, Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat penggilingan Rp 5.250 per kg dan Beras Medium di Gudang Bulog Rp 8.300 per kg.
Serapan beras yang memadai diperlukan sebagai bentuk antisipasi peningkatan permintaan jelang Bulan Ramadan dan Idulitri.
Indeks Bulanan Rumah Tangga CIPS menunjukkan, pada Januari 2023, harga rata-rata GKP di tingkat petani adalah Rp 5.837 per kg atau naik 16,52%. Rata-rata harga GKP di tingkat pengupas Rp 5.973 per kg atau naik 16,72% dibandingkan harga padi mutu sejenis pada Januari 2022. Sementara itu, rata-rata harga GKG di tingkat petani mencapai Rp 6.501 per kg atau naik 20,63%.
Secara terpisah, Direktur Utama Bulog Budi Waseso menyebut pihaknya sampai dengan saat ini masih menunggu besaran HPP dari pemerintah untuk persiapan penyerapan produksi petani lokal yang akan dimulai pada 2023. Bulog menargetkan penyerapan beras dari petani lokal sebanyak 2,4 juta ton hingga akhir tahun ini.
"Masih dalam pembahasan, baik Menteri Keuangan maupun Bapanas [Badan Pangan Nasional]. Nanti juga akan kita perhitungkan, kenaikan [harga] BBM, kenaikan [harga] pupuk, dan lain-lain. Ini pasti ada penyesuaian," katanya saat ditemui di Polda Banten, Serang, Jumat (10/2/2023).
(rez/bbn)