Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, JakartaPemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi terlihat mengganti nama India dengan kata Sansekerta, Bharat, dalam undangan makan malam kepada para tamu KTT G-20. Foto undangan ini beredar luas di media sosial X.

Menteri Urusan Luar Negeri India S Jaishankar menanggapi perdebatan 'India-Bharat' yang sedang hangat ini. Ia mengatakan bahwa Bharat memiliki makna yang tercermin dalam Konstitusi India, demikian dilaporkan Hindustan Times.

"India yang merupakan Bharat, itu ada dalam Konstitusi. Silakan, saya mengajak semua orang untuk membacanya," kata Jaishankar, dikutip dari media tersebut.

Ia juga ditanya tentang reaksi partai oposisi dan apakah pemerintah akan memposisikan India sebagai Bharat bersamaan dengan KTT G20. "Ketika Anda mengatakan Bharat, ada makna, pemahaman, dan konotasi yang menyertainya, dan itu tercermin dalam Konstitusi kita juga," kata Jaishankar.

Pasal 1 Konstitusi negara menggunakan kedua nama tersebut secara bergantian, bunyinya: "India, yaitu Bharat, akan menjadi Negara Kesatuan." Selain itu, beberapa nama seperti Bank Sentral India dan Indian Railways sudah memiliki varian dalam bahasa Hindi dengan "Bharatiya" di dalamnya.

Undangan makan malam G-20 di India yang beredar di media sosial (Sumber: X)

India juga disebut Bharat dan Hindustan, yang merupakan nama-nama sebelum masa penjajahan, yang digunakan secara bergantian oleh masyarakat dan secara resmi.

Selama bertahun-tahun, pemerintahan Modi telah berupaya untuk menghapus simbol-simbol penjajahan Inggris dengan mengubah nama-nama kolonial sebagai langkah membantu India melupakan mentalitas perbudakan.

Mengutip Indian Express, asal muasal kata "Bharat", "Bharata", atau "Bharatvarsha" dapat ditelusuri kembali ke literatur Purana dan Mahabharata. Purana menggambarkan Bharata sebagai tanah antara "laut di selatan dan tempat tinggal salju di utara".

Sementara nama India dan Hindustan diyakini berasal dari 'Hindu', bentuk kata dalam bahasa Persia dari 'Sindhu' dalam bahasa Sanskerta ‘Indus’, yang mulai digunakan saat penaklukan kekaisaran Akhemeniyah atas lembah Indus yang dimulai pada abad ke-6 SM.

(bbn/ggq)

No more pages