Bloomberg Technoz, Jakarta - Makin ajeknya koalisi pendukung bakal calon presiden (capres) Prabowo Subianto dengan 4 partai politik ditandai perubahan nama Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) menjadi Koalisi Indonesia Maju. Nama yang identik dengan kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) diakui Prabowo terinspirasi dari sang Presiden. Koalisi ini jelas ingin melanjutkan visi pemerintahan Jokowi.
Lalu babak berikutnya adalah menentukan calon wakil presiden (cawapres) untuk Prabowo. Ditengarai hal ini makin tak mudah lantaran postur koalisi yang gemuk. Pula ada nama-nama figur politik di dalamnya di luar kader 4 partai tersebut. Prabowo sempat berseloroh beberapa waktu lalu seandainya dia bisa memiliki 4 cawapres. Dia mengakui memilih calon pendamping politiknya bukan perkara mudah. Lantas dalam waktu yang cukup singkat, bagaimana prospek konsensus koalisi ini menentukan cawapres.
"Mencari wapres tidaklah ringan. Bisa tidak wakil presidennya empat orang karena banyak orang hebat," kata Prabowo Subianto saat hadir di acara HUT PAN di Jakarta pada Senin (28/8/2023).
Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat mengatakan, memang peta koalisi akan lebih rumit jika isinya lebih banyak. Artinya, lebih banyak kepala yang harus diperhitungkan dan dikompromikan. Diketahui Koalisi Indonesia Maju terdiri dari Partai Gerindra, Partai Golkar, PKB dan PAN. Selain itu Prabowo juga didukung oleh PBB dan PSI sebagai partai di luar parlemen.

Menurut dia, dalam tiga bulan ini koalisi tersebut memang harus menemukan titik temu dan kriteria bersama menentukan sosok cawapres. Jangan sampai terpecah lagi sebelum pendaftaran capres-cawapres ke KPU pada Oktober-November 2023 mendatang.
"Sepanjang belum ada kriteria yang dibangun bersama, kesepakatan akan sukar karena semuanya merasa punya peran andil kecuali mekanisme untuk kepentingan bersama, kepentingan bangsa. Bagaimana membangun alur strategis untuk pemenangan Prabowo misalnya dengan membuat kalkulasi politik siapa pasangan Prabowo yang paling berpotensi memenangkan Prabowo," kata Cecep saat dihubungi lewat sambungan telepon pada Selasa malam (29/8/2023).
Sementara untuk mengukur calon yang paling strategis kata dia, internal Prabowo seharusnya sudah mulai menyimulasikan pasangan capres-cawapres. Misalnya antara Prabowo-Cak Imin, Prabowo-Airlangga, Prabowo-Erick Thohir, Prabowo-Muhadjir Effendy atau bisa Prabowo-Ridwan Kamil. Diketahui nama-nama tersebut adalah yang beredar belakangan digadang menjadi cawapres. Meski menurut dia tak menampik kemungkinan soal Gibran Rakabuming Raka yang sempat mengemuka namanya. Meski soal peluang itu masih harus dipastikan lewat putusan Mahkamah Konstitusi yang sedang menguji pasal UU Pemilu soal batas umur capres dan cawapres.
Namun demikian menurut dia, peran Jokowi akan sangat sentral untuk menentukan cawapres mengingat koalisi ini cenderung berkiblat ke mantan Wali Kota Surakarta itu.
"Seperti kita tahu Jokowi punya target bersatu bersama Indonesia maju. Jadi harapannya koalisi yang dibangun Prabowo dianggap sebagai perpanjangan dari kepresidenan Jokowi selama 10 tahun ini," imbuhnya.
Hanya yang menarik, tak lama setelah pengumuman nama Koalisi Indonesia Maju di acara HUT PAN, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang sebelumnya disebut cawapres prioritas bagi Prabowo menunjukkan sinyalemen tak dilibatkan dalam perubahan nama itu. Namun kata dia, dalam hal ini dirinya memang tak memiliki hak menerima atau menolak sehingga perubahan itu akan dia sampaikan ke partai.
Ketua DPP PKB Faisol Reza mengonfirmasi bahwa kabar perubahan nama koalisi tersebut memang cukup mengejutkan bagi partainya.
"Beliau (Muhaimin Iskandar) diberitahu mendadak saat itu di tempat acara ultah PAN," kata Faisol kepada Bloomberg Technoz, Rabu (30/8/2023).
Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro menilai, perubahan nama ini jelas menegaskan arah politik koalisi Prabowo sejalan dengan Jokowi.
Soal cawapres Prabowo yang bisa alot menurut dia belum tentu terjadi apabila koalisi sudah menemukan konsensus. Variabel lain yang mengikat mereka dan akan menjadi penentu adalah sosok Jokowi. Oleh karena itu Bawono menilai, rivalitas di dalam koalisi ini tak akan begitu kencang.
"Secara logika apabila partai-partai tersebut telah memantapkan diri mereka untuk berkoalisi bersama mengusung Prabowo Subianto maka konsensus tersebut tidak sulit untuk dicapai," kata Bawono.
(ezr)