Bloomberg News
Bloomberg, Seorang penasihat di bank sentral China (PBOC) menyatakan bahwa pemerintah saat ini harus memprioritaskan bagaimana menggairahkan konsumsi rumah tangga. Pernyataan ini muncul di tengah pemulihan ekonomi yang lesu.
“Tujuan yang paling mendesak saat ini adalah untuk mendorong konsumsi rumah tangga. Kita perlu memanfaatkan semua saluran yang masuk akal, patuh hukum, dan ekonomis untuk memasukkan uang ke kantong warga,” kata Cai Fang, anggota komite kebijakan moneter di PBOC.
Cai Fang menambahkan dalam artikel yang diposting Senin (14/08/2023) malam di akun media sosial China Finance 40 Forum, salah satu lembaga pemikir ekonomi terkemuka di negara tersebut, bahwa pengangguran yang berlanjut pasca-pandemi telah menghambat pengeluaran rumah tangga dan diperkirakan kepercayaan konsumen akan melemah tanpa adanya kebijakan baru.

Cai Fang adalah salah satu dari sekelompok ekonom yang vokal yang telah menyerukan stimulus langsung kepada konsumen untuk meningkatkan belanja, pendekatan yang sejauh ini belum diambil oleh Beijing.
Namun, pihak berwenang hingga kini belum mempertimbangkan memberikan uang tunai langsung kepada konsumen.
Perdana Menteri Li Keqiang tahun lalu mengatakan bahwa pemotongan pajak dan biaya perusahaan adalah cara yang paling "langsung, adil, dan efisien" untuk mendorong ekonomi, alih-alih bantuan langsung untuk konsumen dan investasi skala besar.
Pemulihan ekonomi China kini dihadapkan pada kemunduran di sektor properti yang memburuk. Data resmi yang dirilis Selasa menunjukkan pemulihan yang stagnan. Produksi industri meningkat 3,7% pada Juli dari tahun sebelumnya, lebih rendah dari perkiraan median 4,3% dalam survei Bloomberg, sementara pertumbuhan penjualan ritel melambat menjadi 2,5%, lebih buruk dari perkiraan median 4%.
Data tersebut kemungkinan akan meningkatkan tekanan pada Beijing untuk menambah lebih banyak stimulus moneter atau fiskal setelah respons yang cukup tenang sejauh ini. Data kredit terbaru juga menunjukkan kredit baru turun ke titik terendah dalam 14 tahun pada Juli yang mendorong seruan untuk pelonggaran moneter lebih lanjut.
(bbn)