Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.607,7/troy ons. Menguat 0,3% dibandingkan hari sebelumnya.
Kenaikan datang usai harga sang logam mulia terpangkas lebih dari 1% pada Rabu (26/8/2026). Sepertinya harga yang sudah ‘murah’ kembali mendorong aksi borong, yang kemudian mengerek harga.
Perhatian investor kini tertuju kepada simposium tahunan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve di Jackson Hole (Wyoming), akhir pekan ini. Pelaku pasar akan mencermati, mencerna, dan mengukur arah kebijakan moneter ke depan.
“Jika Warsh (Kevin Warsh, Gubernur The Fed) tidak membicarakan soal apa-apa saja yang bisa menjadi dasar bagi kenaikan suku bunga acuan pada September, maka kemungkinan pasar akan mengartikan sebagai pernyataan yang dovish,” kata Liu Shiyao, Analis di Zijin Tianfeng Futures Co, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Mengutip CME FedWatch, kemungkinan Warsh dan kolega akan mempertahankan Federal Funds Rate di 3,5-3,75% dalam rapat bulan depan. Probabilitasnya adalah 63,5%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
(aji)































