Bloomberg Technoz, Jakarta - China mengubah posisinya soal insiden balon yang dicurigai sebagai alat mata-mata yang melayang di wilayah udara Amerika Serikat (AS). Awalnya China mengungkapkan penyesalan, tetapi kemudian berbalik menjadi mengancam dan akan membalas.
Mengutip Bloomberg News, akhir pekan lalu semestinya jadi perbaikan hubungan kedua negara seiring kunjungan Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken ke China. Namun tembakan misil Aim-9X Sidewinder dari pesawat tempur F-22 Raptor milik AS terhadap balon berteknologi tinggi milik China membuyarkan itu.
Alih-alih melanjutkan pertemuan, Blinken memilih untuk menunda kunjungannya ke China hingga waktu yang belum ditentukan.
China menyatakan bahwa balon itu adalah alat riset pemantauan cuaca yang secara tidak sengaja sampai ke wilayah udara AS. Beijing mengecam tindakan AS dan menyebutnya sebagai tindakan “berlebihan” dalam penggunaan kekuatan.
“China akan menjaga kepentingannya dan berhak melakukan respons jika diperlukan,” tegas pernyataan Kementerian Luar Negeri China.
“Insiden ini menunjukkan titik nadir hubungan kedua negara belum tercapai. Hubungan (AS-China) belum menuju arah yang positif dan bisa memburuk,” kata Drew Thompson, Visiting Senior Research Fellow di Lee Kuan Yew School of Public Policy (Singapura).
Insiden balon ini muncul kurang dari tiga bulan setelah Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk melanjutkan hasil pertemuan mereka di KTT G20 Bali. Rencana Kunjungan Blinken dinilai sebagai langkah menuju perbaikan hubungan.
Relasi yang lebih harmonis menjadi penting bagi kedua negara. Mengingat hubungan dagang AS-China semakin erat dan mungkin mencatatkan rekor tertinggi.

Namun sekarang pertanyaannya adalah apakah kedua negara mampu menemukan solusi tanpa menimbulkan eskalasi?
Butuh berminggu-minggu untuk melahirkan rencana dialog setelah kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan pertengahan tahun lalu. China merespons kunjungan itu dengan meluncurkan misil ke Taiwan. Hubungan AS-China akan diuji jika pengganti Pelosi, Kevin McCarthy, memutuskan untuk kembali menyambangi Taipei.
Di AS sendiri, respons terhadap insiden ini pun terbelah. Kubu Partai Republik menyalahkan Biden karena tidak segera menembak jatuh balon China sebelum masuk wilayah AS. Sementara Partai Demokrat menilai langkah Biden terukur dan tegas.
Tekanan Xi
Xi juga menghadapi tekanan di dalam negeri karena dirinya harus menunjukkan citra sebagai pemimpin yang kuat, apalagi setelah pencabutan kebijakan zero Covid-19.
Video penembakan balon itu beredar di dunia maya dan memancing respons dari warganet China. “Itu hanya balon sipil, AS menembakkan meriam untuk membunuh nyamuk,” tegas seorang warganet.
“Ironis bahwa AS begitu takut terhadap balon nyasar. Apakah China harus membalas dengan menembak pesawat atau kapal AS yang masuk wilayah China?” tulis warganet lainnya.
AS tidak memberikan peringatan kepada pemerintah China sebelum menembak jatuh balon tersebut. Sejumlah pejabat AS menyebut hubungan kedua negara bakal sulit ke depannya.
“Sekarang bola ada di China. Apakah China bisa membuat gestur rekonsiliasi untuk menyenangkan AS?” kata Diana Choyleva, Ekonom Enodo Economics.
Sehari sebelum insiden, China menunjukkan rasa penyesalan karena balon tersebut. “China menyesal karena balon tersebut tidak sengaja masuk wilayah udara dan militer AS karena kondisi kahar (force majeur)”.
Dalam pembicaraan via telepon dengan Blinken, diplomat China Wang Yi menyebut kedua pihak harus menyelesaikan perbedaan dengan “tenang dan profesional”.
Wang Yiwei, Direktur Institute of International Affairs di Renmin University, menilai respons Beijing sebagai bentuk betapa rapuhnya hubungan AS-China.
“AS punya alasan untuk menunda kunjungan Blinken, dan China mengaku memang tidak mengundangnya. Ini karena mereka belum sepakat dalam banyak hal,” tegas Wang.
Jan Ian Chong, Associate Professor di National University of Singapore, menyebut Beijing mencoba melakukan tiga hal sekaligus. Menjaga hubungan dengan AS, terlihat tetap kuat di depan rakyatnya, dan tetap konsisten menyebut balon itu sebagai alat sipil.
“Dinamika politik di China membuat rekonsiliasi dengan AS menjadi sulit,” kata Ja.
(bbn)