Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pertamina angkat bicara mengenai batalnya anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menggelar initial public offering (IPO) pada tahun ini. Salah satu alasannya adalah harga minyak dunia global kurang atraktif dalam mendukung prospek ekonomi.

VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso menjelaskan bahwa IPO PHE tidak dilaksanakan pada saat ini karena masih perlu mencari waktu yang tepat. “Hal ini tentunya sejalan dengan ketetapan yang disampaikan Kementerian BUMN melalui Wakil Menteri BUMN beberapa waktu lalu,” ujarnya, dalam siaran pers, Sabtu (29/7/2023).

Lebih lanjut Fadjar menjelaskan beberapa hal yang menjadi pertimbangan diantaranya seiring dinamika kondisi pasar modal dunia dan Asia Tenggara sepanjang tahun 2023 akibat tekanan dari pengaruh resesi global.

Dari sisi makro ekonomi global, trend peningkatan suku bunga The Fed menambah beban ekonomi emerging markets untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain harga minyak dunia (Brent) mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu, dimana dalam beberapa bulan terakhir berada di level US$70-80 per barrel dan diprediksi tetap bertahan pada level tersebut hingga 2024. Hal ini juga menjadi faktor yang kurang mendukung pelaksanaan IPO PHE pada saat ini.


Pergerakan Harga Minyak 

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan harga minyak dunia tengah menyentuh level tertinggi sejak April seiring dengan tanda-tanda kekuatan ekonomi Amerika Serikat yang makin menguat yang meningkatkan prospek permintaan.

ICE Brent Futures parkir pada harga US$83,90 per barel pada kontrak September 2023, efek pertumbuhan ekonomi AS yang melebihi ekspektasi pasar sebelumnya, bersamaan dengan meningkatnya spekulasi bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mendekati akhir dari siklus pengetatan moneternya.
Grafik Harga Minyak Brent Dalam 3 Hari Terakhir (Bloomberg)

Mencermati harganya, minyak Brent untuk penyelesaian September naik 0,31% menjadi US$83,90 per barel dalam 3 hari terakhir perdagangan pada Jumat (28/7/2023). Lebih jauh lagi, secara bulanan harga minyak Brent menguat 12,02% point-to-point.

Adapun minyak secara luas menguat sejak Juni, ditopang oleh pemotongan pasokan dari Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sekutunya untuk membantu menguras persediaan minyak global, serta tanda-tanda bahwa ekspor minyak mentah lintas laut Rusia terjadi penurunan.

Arab Saudi juga diproyeksikan akan memperpanjang pemotongan pasokan minyak 1 juta barel per hari hingga September menyusul upaya mendorong pemulihan sementara pada harga minyak, seperti yang diwartakan Bloomberg News.

Meski demikian, harga minyak mentah masih tercatat kontraksi sejak awal tahun hingga saat ini (year-to-date/ytd), tercatat koreksinya menipis menjadi hanya 2,5% ytd.

Dari sisi permintaan, pemulihan ekonomi China yang kehilangan momentumnya telah menjadi tantangan yang terus-menerus untuk harga komoditas, tetapi negara tersebut telah mengisyaratkan akan menambah stimulus untuk meningkatkan ekonominya.

(dba)

No more pages