Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Setara Institute melakukan  survei kondisi toleransi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk melihat kondisi toleransi di kalangan pelajar. Dari survei, ada temuan bahwa ada peningkatan radikalisasi pelajar di 5 kota di Indonesia.

"Sebagian remaja pada kategori intoleran pasif bertransformasi menjadi intoleran aktif, sebagaimana digambarkan dari angka 2,4% di tahun 2016 menjadi 5% di tahun 2023. Demikian juga pada kategori terpapar, mengalami peningkatan dari 0,3% menjadi 0,6%," kata Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan dalam keterangannya pada Sabtu (29/7/2023).

Survei dilakukan menyusul adanya dinamika intoleransi yang terjadi dalam beberapa peristiwa termasuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi derajat toleransi siswa SMA.

Penelitian yang dilakukan pada Januari-Maret 2023 ini juga mengacu hasil penelitian pada 2016 tentang sikap toleransi remaja yang digambarkan dalam empat kategori yaitu toleran, intoleran pasif, intoleran aktif, dan potensi terpapar. 

Halili mengatakan, hasil ini didapat dari metodologi metode pengumpulan data oleh surveyor secara face to face (tatap muka) wawancara di lima kota yakni Bandung, Bogor, Surabaya, Surakarta dan Padang. Surveyor juga menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan sekolah-sekolah yang dituju.

Selanjutnya, surveyor menggunakan metode simple random sampling untuk menetapkan siswa SMA sebagai responden. Total ada 947 sampel yang didapat, dengan margin of error 3,3% pada tingkat kepercayaan 95%.

Dalam survei itu, ditemukan lima faktor yang dapat mempengaruhi sikap toleran/intoleran pada remaja. Di antaranya pemahaman wawasan kebangsaan, intensitas penggunaan sosial media, aktivitas keseharian responden, sikap keagamaan dan kondisi sosial ekonomi responden.

"Semua variabel ini menunjukkan korelasi positif sebagai pembentuk karakter siswa," ujarnya.

Menyusul hasil survei itu, Setara meminta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) yang dibentuk dengan Permendikbudristek Nomor 28 Tahun 2021 terus meningkatkan kualitas dan persebaran program-programnya ke semua jenjang pendidikan dan melibatkan berbagai elemen masyarakat pendidikan.

Selain itu para penyelenggara pendidikan diminta meningkatkan pembudayaan wawasan kebangsaan dan mainstreaming toleransi dalam pendidikan keagamaan di sekolah-sekolah. Menurut Halili, dua variabel itu memiliki korelasi positif sebagai pembentuk karakter toleransi siswa.

Kemdikbudristek dan Kementerian Agama (Kemenag) dinilai perlu membentuk instrumen pembinaan yang efektif bagi guru-guru mata pelajaran Agama dan guru Pendidikan Kewarganegaraan termasuk memberikan fasilitas peningkatan kualitas pengajaran.

Dua kementerian ini juga diminta merespons masih tingginya kategori siswa yang intoleran aktif dan terpapar radikalisme. 

(ezr)

No more pages