Bloomberg Technoz, Jakarta - Permintaan emas dunia selama 2022 menembus rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir, terdorong oleh aksi bank sentral di seluruh dunia yang agresif memborong emas dan pembelian oleh investor ritel.
World Gold Council dalam laporan terbaru yang dirilis pekan ini mencatat permintaan tahunan emas di seluruh dunia naik 18% menjadi sebesar 4.741 ton. Angka itu mendekati rekor permintaan emas tertinggi yang pernah terjadi pada 2011.
Permintaan emas tahun lalu terutama terdorong lonjakan permintaan yang menembus rekor pada kuartal IV-2022 sebesar 1.337 ton. Sementara total pasokan emas dunia pada 2022 hanya mampu naik 2% sebanyak 4.775 ton, didukung oleh kenaikan produksi emas sebesar 3.612 ton, tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Lonjakan permintaan emas selama 2022 ini boleh jadi terdorong situasi harga emas yang cenderung melemah akibat kalah pamor dengan dollar Amerika Serikat (AS) yang menguat tanpa bisa ditahan seiring aksi The Federal Reserves menaikkan bunga secara agresif. World Gold Council mencatat, menutup 2022, harga emas LBMA berada di level US$ 1.800 per troy ounce.
Sebagai catatan, pergerakan harga emas biasanya berkebalikan dengan the greenback. Keduanya seringkali sama-sama diburu sebagai aset lindung nilai alias safe haven.
Ketika ketidakpastian global meningkat seperti yang terjadi ketika pertama kali pandemi meletus di Wuhan, China, emas menjadi buruan para pemodal di seluruh dunia untuk menyelamatkan asetnya sementara menyusul turbulensi di pasar ekuitas yang menggerus kekayaan mereka.
Namun, ketika bank sentral agresif menaikkan bunga untuk menekan inflasi, dalam hal ini adalah The Fed, harga dollar AS melambung dan emas bergerak ke arah sebaliknya.

Langkah bank sentral di banyak negara yang agresif menumpuk cadangan emas juga memicu permintaan emas di seluruh dunia. Selama 2022, bank sentral belanja emas hingga 1.136 ton, itu adalah nilai belanja tertinggi sejak 1967. Beberapa negara tercatat sebagai pemborong emas terbesar yaitu Turki dan China. Aksi borong emas itu dipicu oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global yang melambung sepanjang tahun lalu.
Penjualan perhiasan emas sedikit melemah
Lebih lanjut selama 2022 juga emas perhiasan menjadi buruan para investor ritel dan rumah tangga yang berharap bisa menyelamatkan aset mereka dari tekanan inflasi tinggi. Di kawasan Asia Tenggara, misalnya, permintaan perhiasan emas selama 2022 naik di seluruh negara. Vietnam memimpin permintaan perhiasaan emas dengan kenaikan 51%, menembus 18 ton, tertinggi dalam empat tahun.
Perhiasan emas juga menjadi buruan di Thailand dengan kenaikan permintaan 17% mencapai 9 ton. “Adapun permintaan di pasar perhiasan emas terbesar Asia Tenggara yaitu Indonesia, tercatat hanya naik 5% dengan total permintaan sebesar 28 ton selama 2022,” jelas laporan World Gold Council seperti dikutip oleh Bloomberg Technoz, Kamis (2/1/2023).
Inflasi yang tinggi di Indonesia, kendati saat ini sudah mulai melandai, ditengarai membuat pengetatan belanja rumah tangga sehingga pembelian emas di pasar domestik ikut terpengaruh.

Kendati permintaan perhiasan emas di kawasan Asia Tenggara cukup mengesankan, secara global permintaan perhiasaan emas ini sedikit melemah selama 2022. WDC mencatat, pembelian emas perhiasan sedikit menurun 3% sebesar 2.086 ton kebanyakan dipicu lemahnya permintaan perhiasan pada kuartal terakhir 2022 akibat harga emas yang naik.
Pelemahan itu terutama akibat situasi China yang masih terbekap lockdown selama 2022 dan mempengaruhi aktivitas warga berikut belanja perhiasan mereka.
Permintaan perhiasan di China turun 15% menjadi sebesar 571 ton, lebih rendah 113 ton di bawah rata-rata pembelian tahunan selama satu dasawarsa terakhir. Begitu juga di India, yang selama ini dikenal sebagai pasar emas terbesar di dunia. Selama 2022, permintaan emas di negeri Bollywood itu turun 2% sebesar 600 ton perhiasan emas.
(rui/bbn)