Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga batu bara bergerak turun sepanjang pekan ini. Si batu hitam melanjutkan tren negatif yang berlangsung semester II-2022.
Pekan ini, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) turun 4,89% secara point-to-point. Pada penutupan kemarin, harga berada di US$ 164,26/ton, terendah sejak Maret tahun lalu.
Sejak awal tahun (year to-date/ytd), harga komoditas ini anjlok 46,84%.

Mengutip riset Bank Dunia yang berjudul Declining Coal Prices Reflect a Reshaping of Global Energy Trade karya Paolo Agnolucci, Peter Nagle, dan Kaltrina Temaj, koreksi harga batu bara yang terjadi sejak paruh kedua 2022 terjadi akibat tingginya pasokan. Ekspor dari Afrika Selatan dan Kolombia, misalnya, melonjak 35% sejak Agustus 2022.
“Harga batu bara diperkirakan turun pada 2023 dibandingkan 2022, tetapi masih lebih tinggi ketimbang rata-rata 2017-2021,” sebut riset itu.
Sementara permintaan sudah memuncak pada 2022 dan bergerak turun tahun ini. Di Amerika Serikat (AS), contohnya, permintaan sudah turun 8% pada kuartal IV-2022.
“Kenaikan permintaan juga akan terhambat jika kebangkitan ekonomi China gagal terwujud, yang diiringi dengan perlambatan ekonomi global. Dalam jangka panjang, risiko geopolitik akibat serangan Rusia ke Ukraina akan meningkatkan keinginan untuk melakukan transisi energi beralih dari bahan bakar fosil. Artinya, kemungkinan permintaan batu bara dunia akan memuncak pada 2023 dan anjlok setelah itu,” jelas riset tersebut.
(aji/wdh)